KBBAceh.News | Tapaktuan – Dalam Al Qur’an Surat At-Taḥrīm ayat 6 Allah berfirman dalam : “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Ayat ini ditujukan langsung kepada kaum beriman, bukan kepada orang kafir, bukan pula kepada orang fasik. Artinya, meski sudah beriman, masih ada tanggung jawab besar: menjaga diri dan keluarga dari api neraka.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa menjaga diri berarti menunaikan kewajiban kepada Allah, sedangkan menjaga keluarga berarti mendidik mereka agar taat, menunaikan shalat, menjauhi larangan, serta mengajarkan halal dan haram. Ali bin Abi Thalib berkata: “Didiklah mereka, ajarilah mereka.”
Ayat ini juga mengingatkan bahwa seorang ayah atau suami bukan sekadar pemberi nafkah, melainkan juga imam bagi keluarga. Tugasnya bukan hanya mencari makan, tapi juga memastikan keluarga tidak menjadi bahan bakar neraka.
Mari kita melihat beberapa tafsir berikut:
Tafsir Al-Maraghi: memelihara keluarga dari neraka berarti menanamkan akhlak mulia, membimbing kepada ketaatan, dan mencegah dari kemungkaran.
Tafsir Quraish Shihab: keluarga diibaratkan amanah. Jika seorang pemimpin lalai, ia akan dimintai pertanggungjawaban. Ayat ini menjadi dalil kuat bahwa tanggung jawab spiritual dalam rumah tangga tak kalah penting dari tanggung jawab material.
Seorang ulama menceritakan kisah seorang ayah yang sibuk bekerja siang malam. Ia memberi rumah mewah, pakaian indah, dan makanan lezat untuk keluarganya. Namun suatu hari, anaknya berkata: “Ayah, terima kasih untuk semua yang Ayah berikan. Tapi kenapa Ayah tidak pernah mengajari kami cara mendekat kepada Allah?”
Kalimat itu menghujam hati sang ayah. Ia baru sadar: selama ini ia hanya menjaga keluarga dari lapar dan dingin, tapi lupa menjaga mereka dari api neraka.
Analogi sederhana: seorang kapten kapal bukan hanya bertugas membelokkan haluan, tapi juga memastikan penumpangnya selamat. Apa gunanya kapal megah kalau karam di lautan? Begitu pula keluarga: rumah boleh besar, mobil boleh mewah, tapi jika seluruh penumpang rumah tangga jatuh ke neraka, untuk apa semua itu?
Banyak suami merasa tugasnya selesai begitu ia menaruh uang di meja. Banyak istri merasa cukup ketika anak-anak diberi makan dan pakaian. Tapi ayat ini justru berkata sebaliknya: tugas utama keluarga adalah menyelamatkan, bukan sekadar memberi makan.
Kita sering menabung untuk biaya sekolah anak, tapi berapa kali kita menabungkan doa agar anak selamat di akhirat?
Kita khawatir anak tidak masuk sekolah favorit, tapi pernahkah kita lebih khawatir kalau anak tidak masuk surga?
Kita bangga anak bisa bahasa Inggris sejak kecil, tapi pernahkah kita risau jika anak tidak bisa membaca Al-Qur’an?
Pertanyaan-pertanyaan ini agak mengusik, karena menyentil realitas kita: kita lebih takut anak gagal di dunia daripada gagal di akhirat.
Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa keluarga adalah amanah. Suami, ayah, ibu—semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan biarkan rumah tangga kita indah di mata manusia, tapi hancur di hadapan Allah.
(By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)