KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada kisah seorang sahabat, Abu Darda. Istrinya sering meminta agar ia melonggarkan ibadahnya, karena dianggap terlalu banyak shalat malam. Ia tersenyum dan berkata: “Aku menikahimu bukan untuk meninggalkan Allah, tapi agar aku semakin dekat dengan Allah bersamamu.”
Jika kita Analogikan, keluarga itu seperti api. Api bisa menghangatkan rumah, tapi kalau tidak dijaga bisa membakar habis rumah itu. Maka, kita dituntut pandai “mengatur api” — menjaga cinta keluarga tetap hangat, tapi tidak sampai membakar iman.
Ironisnya, di era modern banyak orang bekerja mati-matian untuk keluarga, tapi justru kehilangan keluarga itu sendiri. Seorang ayah bilang: “Aku sibuk mencari nafkah demi anak-anak.” Tapi karena terlalu sibuk, ia tidak pernah hadir saat anaknya tumbuh. Nafkahnya ada, sosoknya tidak ada.
Lebih ironis lagi, ada orang yang rela melanggar hukum, korupsi, atau berbuat haram dengan alasan “demi keluarga”. Padahal justru ia sedang menjerumuskan keluarga ke dalam api neraka.
Pertanyaannya Apakah keluarga kita benar-benar jadi jembatan menuju surga, atau tanpa sadar malah jadi jebakan menuju neraka?
Allah berfirman dalam QS. At-Taghabun ayat 14–15: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Dan jika kamu memaafkan, dan tidak memarahi, serta mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Ayat ini memberi peringatan tegas: keluarga bukan hanya anugerah, tapi juga ujian. Betapa banyak orang yang tergelincir dari jalan Allah karena lebih mencintai keluarga daripada ketaatan.
Istri atau anak bisa menjadi “musuh” — bukan karena benci, tetapi karena tanpa sadar mereka menarik kita menjauh dari Allah. Misalnya, seorang ayah yang lalai berjamaah karena menuruti rengekan anak, atau seorang suami yang kompromi pada kemaksiatan demi menyenangkan keluarga.
Harta dan anak sebagai fitnah — bukan berarti buruk, tapi menjadi sarana ujian: apakah kita tetap ingat Allah atau justru terikat pada mereka.
Namun ayat juga menyeimbangkan: jangan sampai sikap hati-hati berubah menjadi kebencian. Allah memerintahkan untuk tetap memaafkan dan mengasihi.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan yang dimaksud “musuh” adalah jika keluarga menghalangi ketaatan kepada Allah. Tapi solusinya bukan membenci, melainkan bersabar dan mengampuni.
Begitu juga Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan fitnah keluarga bisa datang dari cinta yang berlebihan. Seolah berkata, “Berhati-hatilah, jangan sampai cintamu pada keluarga membuatmu melupakan hak Allah.”
Sedang Quraish Shihab mengatakan ayat ini mengingatkan keseimbangan: jangan menolak keluarga karena khawatir menjadi cobaan, tapi jangan pula larut dalam cinta buta.
Dari penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa Keluarga adalah anugerah sekaligus ujian. Allah mengingatkan agar kita waspada, tapi juga penuh kasih sayang. Jangan sampai cinta keluarga melalaikan kita dari Allah, namun jangan pula ujian keluarga membuat kita kehilangan rahmat.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)