Dilema Etika di Ruang Kerja

Dilema Etika di Ruang Kerja
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA

KBBAceh.News | Tapakttuan – Sering kali kita mendengar cerita atau informasi yang disampaikan oleh rekan kerja, khususnya ketika ada seorang karyawan yang diminta untuk bertemu dengan atasannya. Memang ada kekeliruan dalam pekerjaannya; dia terlambat dalam menindaklanjuti dokumen penting. Pegawai tersebut tidak berusaha mengelak atau menyangkal kesalahannya sedikit pun, malah dia menjawab dengan nada yang penuh kejujuran:

“Saya akui itu kelalaian saya, Pak. Tapi… orang lain juga sering begitu. Bahkan lebih parah. Bukankah ini sudah jadi budaya di sini?”

Sekilas, kalimat itu terdengar seperti pembelaan klasik: mengalihkan sorotan dari diri sendiri dengan menunjuk pada orang lain. Tapi bagaimana jika itu bukan sekadar alasan? Bagaimana jika kalimat itu adalah cermin dari sebuah sistem yang sedang sakit?

Kejujuran adalah mata uang yang mahal di dunia birokrasi. Tapi nilai itu bisa jatuh bila disampaikan dengan cara yang salah, apalagi di waktu yang tidak tepat. Ketika pegawai dimintai pertanggungjawaban, lalu membandingkan diri dengan kesalahan rekan lain, niat baik pun bisa disalahpahami sebagai upaya menyelamatkan diri.

Namun, mari kita lihat dari sudut pandang berbeda. Bagaimana jika yang disampaikan bukan untuk “menyeret”, tetapi untuk “menyadarkan”? Bahwa ada pola kelalaian yang terjadi berulang kali. Bahwa kesalahan ini bukan insiden tunggal, tapi gejala budaya kerja yang longgar.

Masalahnya bukan pada isi kalimat itu, tetapi cara dan konteks penyampaiannya.

Dalam dunia profesional, mengungkap bobroknya sistem adalah bagian dari keberanian dan loyalitas terhadap institusi. Tapi itu butuh etika, agar tidak berubah menjadi sekadar saling menjatuhkan.

Beberapa prinsip etika penting dalam menyampaikan sesuatu diataranya:

1. Pisahkan antara evaluasi pribadi dan sistem.

“Saya bertanggung jawab atas kelalaian ini. Namun saya ingin menyampaikan bahwa pola keterlambatan ini sering terjadi dan mungkin butuh perhatian bersama.”

2. Hindari menyebut nama, tapi fokus pada pola.

“Ada kecenderungan umum di beberapa bagian untuk menunda pengesahan dokumen. Jika dibiarkan, ini bisa jadi kebiasaan.”

3. Gunakan data atau contoh objektif.

“Berdasarkan catatan harian kerja, lebih dari separuh dokumen pengesahan lewat deadline. Mungkin ini bisa jadi bahan evaluasi rutin.”

4. Tawarkan solusi, bukan sekadar keluhan.

“Apakah memungkinkan kita menyusun SOP baru atau sistem alarm digital untuk mengingatkan tenggat waktu?”

Jika begitu, apa yang membedakan “Mengadu” dan “Menyampaikan”

Mengadu adalah menyampaikan kekurangan orang lain untuk menyelamatkan diri.

Menyampaikan adalah membuka realitas untuk perbaikan bersama.

Sayangnya, banyak orang baik justru memilih diam karena takut disalahpahami. Padahal diam kadang berarti membiarkan kerusakan merajalela. Maka kuncinya bukan berhenti menyuarakan, tapi menyuarakan dengan cara yang etis dan strategis.

Organisasi butuh orang-orang yang menjadi cermin—yang menunjukkan noda dengan jujur, bukan pisau yang mengiris orang lain demi menyelamatkan diri. Pegawai seperti itu bukan ancaman, tapi aset berharga. Karena dari merekalah, perbaikan bisa dimulai.

Dan bagi para atasan, kalimat seperti “Orang lain juga begitu, Pak,” bisa jadi adalah alarm. Bukan untuk mengurangi kesalahan yang ada, tapi untuk menyadari bahwa koreksi personal tidak cukup tanpa pembenahan sistem.

Ingatlah… bahwa Jujur Itu Langka, Tapi Harus Diarahkan

Jangan buru-buru mencap seseorang sebagai pembela diri hanya karena ia menunjukkan bahwa “orang lain juga begitu.” Bisa jadi, ia sedang memberitahu kita bahwa sistem ini sedang butuh pembenahan.

Dan jika kalimat itu disampaikan bukan dengan kemarahan, tapi dengan kesadaran dan tanggung jawab, mungkin kita sedang berhadapan bukan dengan pembela, tapi dengan pemimpin masa depan. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar