KBBAceh.News | Banda Aceh – Ada masa ketika hati kita bergerak lebih cepat dari logika—melihat seseorang kesulitan, tangan ini langsung ingin menolong. Kadang tanpa diminta, kadang tanpa dihitung. Karena rasa kasihan itu seperti refleks kemanusiaan yang tak sempat berpikir untung rugi.
Namun di balik setiap niat baik, manusia juga punya ruang kecil bernama harga diri. Ruang itulah yang kadang terluka bukan karena ditolak, tapi karena diabaikan. Sebab membantu bukan berarti rela dianggap sepele. Kebaikan bukan berarti tunduk pada perlakuan semena-mena.
Bayangkan seekor kuda yang setiap hari menarik pedati berat demi mengantar orang sampai tujuan. Ia tak pernah menuntut pujian, hanya butuh diberi makan dan dirawat. Tetapi jika setiap kali selesai bekerja ia dipukul dan dihardik, lama-lama ia akan berhenti melangkah, bukan karena lelah, melainkan karena merasa tak dihargai. Begitulah hati manusia yang menolong—ia kuat selama ada penghargaan yang sederhana: ucapan terima kasih, senyum tulus, atau sekadar pengakuan bahwa bantuannya berarti.
Menolong karena kasihan adalah bentuk cinta. Tetapi mengharapkan penghargaan bukan tanda pamrih, melainkan kebutuhan jiwa untuk tetap merasa manusiawi. Karena manusia bukan malaikat. Kita tidak diciptakan tanpa rasa, tanpa ingin dianggap, tanpa butuh apresiasi.
Jadi, jika kau menolong—tolonglah dengan hati yang sadar. Sadar bahwa kebaikan sejati tidak buta arah, ia tetap menegakkan martabat. Dan jika kau ditolong—belajarlah menghargai, sebab yang datang menolongmu bukan tangan pengemis, melainkan hati yang berjiwa besar.
Menolong bukan berarti lebih tinggi, dihargai bukan berarti sombong. Di antara dua hal itulah letak keseimbangan hidup: kasih yang berakar pada empati, dan harga diri yang tumbuh dari penghormatan.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag. MA)