By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAceh.News | Banada Aceh – Tulisan ini tidak lahir dari imajinasi, melainkan dari kenyataan yang singgah pelan di hadapan mata.
Ia saya temui pada sebuah pagi yang biasa, di sebuah warung sederhana di Kota Banda Aceh. Tidak ada adegan yang disengaja, tidak pula kata-kata yang diatur. Yang ada hanyalah kehidupan yang berjalan apa adanya—dan justru di sanalah maknanya tumbuh. Sepasang suami istri datang membawa cerita yang tidak mereka ucapkan, namun mampu mengajarkan tentang kesetiaan, ketulusan, dan cinta yang tidak bersuara. Dari peristiwa yang sunyi itulah tulisan ini bermula.
Pagi itu Banda Aceh belum benar-benar riuh. Warung kecil di sudut kota masih setia dengan aroma kopi dan bunyi sendok beradu. Di antara kesederhanaan itu, saya dikejutkan oleh satu peristiwa yang sunyi—namun suaranya menggema ke relung hati.
Sepasang suami istri datang dengan mobil mewah. Sang suami menurunkan kursi roda, membuka pintu, lalu menggendong istrinya dengan hati-hati. Bukan karena ingin dipuji, bukan pula karena ada kamera. Setelah duduk, ia menyuapi istrinya perlahan, satu suapan demi satu suapan. Wajahnya tenang. Tangannya pasti. Seolah-olah itulah ritme hidup yang paling wajar.
Saya bertanya kepada beberapa orang di warung. Jawabannya serempak dan sederhana: “Itu dilakukan setiap hari.”
Di situlah saya pelan-pelan menganalisa belajar—bahwa sakinah bukan slogan, bukan foto prewedding, bukan pula pidato manis di pelaminan. Sakinah adalah kesetiaan yang bekerja diam-diam. Ia hadir ketika tubuh melemah, ketika langkah terhenti, ketika hidup tak lagi memberi kemewahan selain kebersamaan.
Banyak rumah tangga runtuh bukan karena miskin harta, tetapi karena miskin makna. Kita sering menyamakan bahagia dengan mudah; menyamakan cinta dengan nyaman. Padahal, cinta yang matang justru diuji saat kenyamanan dicabut. Ketika pasangan tak lagi bisa “memberi” sebagaimana dulu, apakah kita masih memilih untuk tinggal?
Di warung itu, jawabannya nyata.
Mawaddah terlihat pada perhatian yang tak putus. Rahmah menjelma dalam kesabaran yang berulang. Dan sakinah bersemayam pada hati yang menerima takdir tanpa mengeluh.
Sang suami tidak sedang berkorban. Ia sedang menunaikan janji—janji yang pernah diucapkan di hadapan Allah: setia dalam sehat dan sakit, lapang dan sempit. Ia mengerti, pernikahan bukan kontrak untung-rugi, melainkan amanah untuk saling menjaga.
Mungkin itulah sebabnya peristiwa itu terasa indah. Karena di tengah dunia yang gemar memamerkan, ada cinta yang memilih untuk melayani. Di tengah zaman yang cepat menyerah, ada kesetiaan yang memilih untuk bertahan. Tanpa pidato, tanpa panggung—hanya sarapan pagi yang menjelma ibadah.
Jika sakinah harus dicari, barangkali ia ada di warung sederhana, di kursi roda yang didorong dengan sabar, di tangan yang menyuapi tanpa lelah.
Dan kita pun diingatkan bahwa keluarga sakinah bukanlah keluarga tanpa ujian, melainkan keluarga yang tetap bersama ketika ujian datang. (Red)