By Dr. Khairuddin, S.Ag., MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Diawal tulisan ini, izin saya menyampaikan satu ungkapan : โAku tidak tahu lagi harus berkata apa. Tapi aku yakin, Engkau tetap mendengarku.โ
Doa bukanlah tentang seberapa panjang kalimatnya. Ia bukan pula tentang betapa indah kata-katanya dirangkai. Doa adalah tentang siapa yang hadir di balik setiap kalimatnya: hati.
Dan kadang, justru saat kata-kata tak lagi muncul, saat lidah kelu dan kepala buntuโitulah saat doa sedang mencapai titik tertingginya.
Karena kamu tidak sedang berdialog dengan sesama manusia. Kamu sedang berdiri (atau bersujud) di hadapan Tuhan. Dan Dia, tidak butuh kata untuk memahami isi hatimu.
Kita hidup dalam budaya banyak bicara. Bahkan dalam doa pun kita cenderung sibuk: menyebut ini, meminta itu, menceritakan ini, menjelaskan itu.
Tapi tahukah kamu? Allah tidak butuh penjelasan.
Allah tidak butuh kita menerangkan masalah kita dari A sampai Z agar Dia mengerti. Dia Maha Mengetahui sebelum kita bicara. Bahkan sebelum masalah itu muncul dalam hidup kita.
Maka, saat kita hanya duduk diam di sajadah, menutup mata, dan berkata dalam hati, โAku pasrah,โโitulah doa. Bahkan saat kita hanya menunduk dan menghela napas panjangโitulah doa.
Dan sering kali, itulah doa terbaik: doa yang tak lagi butuh kata, karena hubungan dengan-Nya sudah terlalu dekat untuk dibatasi oleh bahasa.
Lihatlah doa Nabi Yunus AS dalam perut ikan:
ููุง ุฅููููฐูู ุฅููููุง ุฃููุชู ุณูุจูุญูุงูููู ุฅููููู ูููุชู ู ููู ุงูุธููุงููู ูููู
โTiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.โ (QS. Al-Anbiya: 87)
Itu bukan permintaan. Itu bukan pengaduan lengkap. Tapi itu adalah pengakuan hati. Dan dari situ, Allah keluarkan dia dari gelapnya perut ikan, gelapnya laut, dan gelapnya malam.
Allah tahu isi hatimu bahkan saat kamu hanya mampu berkata, โAku lelah, ya Rabbโฆโ
Allah tahu maksudmu bahkan ketika kamu hanya bisa diam dan menangis.
Dan Allah tidak akan pernah salah mengartikan diamnya seorang hamba yang tulus.
Kadang kita terlalu memaksa diri untuk terlihat โberdoaโ. Padahal Allah tidak menilai dari gerakan bibir, tapi dari gerakan hati.
Ada orang yang duduk lama setelah shalat, tak mengangkat tangan, tak mengucapkan apa pun. Tapi hatinya bergetar. Dan Allah tahu: dia sedang bicara.
Ada pula yang hanya memandang sajadah dalam tangis hening. Dan Allah tahu: dia sedang mencintai.
Itulah kedalaman doa yang tak lagi butuh kata. Doa yang hidup dalam kesunyian, tapi penuh percakapan batin.
Saudaraku yang terbaik..
Jangan takut jika suatu hari kamu tidak tahu harus berkata apa dalam doamu. Jangan merasa gagal hanya karena kamu tidak mampu memintal kalimat indah seperti orang lain.
Karena bisa jadi, dalam diam itulah hatimu sedang paling jujur. Dalam diam itulah, Allah paling dekat. Dalam diam itulah, doa-doamu paling tulus, dan paling utuh.
Dan Allahโฆ selalu memahami bahasa sunyi dari hamba yang berserah. (Red)