𝐊𝐞𝐭𝐒𝐀𝐚 πŠπžπ›π¨π‘π¨π§π πšπ§ πƒπ’π¦π’π§πšπ­π’

𝐊𝐞𝐭𝐒𝐀𝐚 πŠπžπ›π¨π‘π¨π§π πšπ§ πƒπ’π¦π’π§πšπ­π’
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

Tulisan ini lahir dari sebuah percakapan sederhana, namun menggugah. Seseorang bercerita tentang kejadian di sebuah kampung, yang tampak biasa dan tenang dari luar, namun ternyata menyimpan kenyataan yang mengejutkan. Sebuah kebohongan besar terbongkar, dan betapa mengejutkannya ketika diketahui bahwa kebohongan itu bukan hanya dilakukan oleh satu atau dua orang, melainkan melibatkan begitu banyak warga. Hampir separuh dari masyarakat kampung itu terlibat secara langsung atau tidak langsung. Dan yang lebih menyedihkan lagi: kebohongan itu seolah menjadi sesuatu yang lumrah, bahkan diminati.

Di perkampungan itu, masyarakatnya hidup sibuk dengan urusan masing-masing. Dari pagi hingga malam, semua seperti berlomba mengurus pekerjaan, mengejar penghasilan, atau menyelesaikan tugas rumah tangga. Namun, di balik kesibukan itu, satu hal yang pelan-pelan hilang: komunikasi dan kepercayaan antarwarga.

Tak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi di rumah sebelah. Bahkan ketika seseorang tertimpa musibah atau membuat kesalahan, tetangga hanya bisa menebak-nebak. Maka, ketika kasus kebohongan itu muncul ke permukaan, semua menjadi geger. Tapi yang membuat miris bukan hanya peristiwanya melainkan kenyataan bahwa kebohongan telah menjadi bagian dari keseharian warga.

Kebohongan di kampung itu ibarat gula yang ditaburkan di atas makanan busuk. Manisnya menutupi bau busuk yang ada di dalamnya. Orang yang mencicipinya tidak langsung sadar bahwa apa yang mereka nikmati sesungguhnya hanyalah kemasan, bukan kebaikan sejati. Lama-lama, lidah pun terbiasa. Bahkan ketika ada makanan yang jujur, yang polos, mereka justru menganggap itu aneh dan tidak menarik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kebohongan bukan lagi perbuatan individu, tapi sudah menjadi budaya. Ia diwariskan, diorganisir, dan disepakati secara diam-diam. Orang yang jujur justru dianggap mengganggu sistem. Ia dijauhi, dicurigai, bahkan dicemooh.

Sungguh ironis, saat kejujuran menjadi ancaman dan kebohongan jadi jalan aman.

Apa yang Salah?

Masalahnya bukan hanya pada orang yang berbohong, tapi pada lingkungan yang menikmati dan membiarkannya. Seperti hutan yang terbakar, satu ranting yang menyala tak akan membakar semuanya kalau sekelilingnya lembab. Tapi jika seluruh hutan kering, maka api kecil pun akan menghabiskan segalanya.

Namun harapan tak sepenuhnya padam. Masih ada sebagian kecil yang diam-diam menjaga hati agar tidak ikut larut. Mereka yang tetap menyalakan lentera kebenaran, meski kecil, tetap memberi terang.

Saudaraku..

Kebohongan hanya akan menang ketika orang jujur berhenti bicara.

Dan kejujuran, meski tidak diminati, tetap akan menjadi pelita bagi siapa saja yang ingin pulang ke arah yang benar. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar