๐—–๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฝ ๐—œ๐˜๐˜‚ ๐— ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐—ต: ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—›๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ ๐—”๐—ฆ๐—ก

๐—–๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—ฝ ๐—œ๐˜๐˜‚ ๐— ๐—ฒ๐˜„๐—ฎ๐—ต: ๐—ฃ๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—›๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ ๐—”๐—ฆ๐—ก
Dr. Khairudin, S.Ag,. MA  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) sering dipersepsikan sebagai pilihan hidup yang โ€œamanโ€: gaji jelas, tunjangan pasti, dan pensiun terjamin. Namun, di sisi lain, jarang terdengar cerita seorang ASN yang tiba-tiba melonjak menjadi miliarder hanya dari gaji bulanannya. Kata orang, โ€œASN cukup untuk hidup, tapi sulit untuk kaya.โ€ Apakah itu sebuah kutukan profesi atau justru panggilan kesederhanaan?
Fenomena ini sesungguhnya tidak tunggal. Ada ASN yang tetap โ€œhidup pas-pasanโ€ meski puluhan tahun bekerja, ada pula ASN yang tampak โ€œberkecukupan lebihโ€ meski pangkatnya biasa-biasa saja. Bedanya ada pada dua hal sederhana namun sering dilupakan: kemampuan mengelola keuangan dan kemampuan bersyukur.
Pertama, mengelola keuangan.
Tidak sedikit ASN yang jatuh bukan karena kurang gaji, tetapi karena gaya hidup yang melebihi kapasitas dompet. Istilahnya, gaji naik pangkat, gaya hidup juga ikut naik. Slogan โ€œbelum gajian sudah habisโ€ bukanlah mitos, tapi cermin kebiasaan belanja yang lebih cepat dari aliran rezeki. ASN yang cerdas justru tahu bagaimana mengubah gaji yang pas-pasan menjadi cukup: memprioritaskan kebutuhan, menekan keinginan, dan menghindari jebakan โ€œkredit sana siniโ€ yang hanya membuat hidup bekerja untuk cicilan.
Kedua, pandai bersyukur.
Di sinilah letak seni menjadi ASN. Bersyukur bukan sekadar menerima apa adanya, tetapi menjadikan keterbatasan itu ruang kreativitas. ASN yang bersyukur mampu melihat bahwa rezeki tidak melulu berbentuk angka rupiah. Ada kesehatan, ada kesempatan, ada keluarga yang terjamin. Bersyukur melahirkan rasa cukup, dan rasa cukup itulah yang kadang lebih mahal dari kekayaan materi.
Menggelitiknya, sering kali yang membuat seorang ASN tampak โ€œkayaโ€ bukanlah gajinya, melainkan pilihan hidupnya. Ada yang kaya pengalaman karena sering bersentuhan dengan masyarakat. Ada yang kaya jaringan pertemanan karena pekerjaannya menuntut koordinasi lintas sektor. Ada juga yang kaya ide dan gagasan karena terbiasa dengan kerja administratif dan analitis.
Maka, kalaupun benar ASN tidak akan kaya raya, paling tidak ia tidak miskin makna. Dan jika ada ASN yang sampai benar-benar kaya harta, biasanya bukan semata karena gajinya, tapi karena ada โ€œcerita lainโ€ yang kadang menarik untuk dikajiโ€”apakah itu cerita inovasi, wirausaha sampingan, atauโ€ฆ cerita yang membuat auditor ikut tersenyum pahit.
Ingatlah saudaraku…
Rasulullah SAW pernah bersabda: โ€œBukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa.โ€
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan pepatah lama juga berkata, โ€œOrang yang tahu merasa cukup adalah orang yang paling kaya di dunia.โ€
Maka, ASN sesungguhnya sedang ditempa untuk menjadi kaya dalam arti yang paling mulia: kaya hati, kaya syukur, dan kaya keberkahan. Karena cukup itu bukan berarti pas-pasan, melainkan berhenti merasa kurang. Kaya itu bonus, cukup itu tujuan, syukur itu kunci. (Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar