KBBAceh.News | Tapaktuan – Sore itu, saya dan istri berjalan menyusuri sudut-sudut Banda Aceh. Udara lembut membawa aroma laut dan suara azan magrib yang sayup dari kejauhan. Di sepanjang jalan, para pedagang berjejer—ada yang wajahnya berseri-seri karena dagangannya laris, tapi ada juga yang tampak murung menatap meja jualannya yang sepi pembeli.
Saya berhenti di salah satu lapak kecil. Seorang pedagang menyapa dengan senyum lemah.
“Bagaimana jualannya hari ini?” tanya saya perlahan, Ia menunduk sebentar, lalu menjawab lirih, “Pasar lagi sepi, Pak.”
Kami berbincang sebentar, dan di sela percakapan itu, saya mulai paham: bukan sepinya pembeli yang membuat wajahnya lesu, melainkan karena ada harapan kepada seseorang yang tak kunjung menepati janji—entah teman yang berutang, atau rekan yang tak menepati kata. Dari sana saya tahu, kadang bukan kerugian yang paling melelahkan, tapi kecewa karena menggantungkan harap pada manusia.
Saya lalu teringat nasihat lembut Imam Asy-Syafi‘i yang pernah saya baca Al-Bayhaqi, Manaqib Asy-Syafi‘i, Juz 2, hlm. 188) : “Barangsiapa menginginkan kemuliaan tanpa memiliki kekuasaan dan harta, maka hendaklah ia meninggalkan ketergantungan kepada makhluk, dan menggantungkan seluruh harapnya hanya kepada Allah.”
Kata-kata itu terasa hidup di hadapan pedagang yang sedang diuji sabarnya.
Sebab sebesar apa pun kita menggantungkan diri pada makhluk, sebesar itu pula kita menyiapkan ruang untuk kecewa.
Manusia bukan langit tempat sandaran; ia hanyalah dahan yang bisa patah kapan saja—oleh waktu, oleh lelah, oleh keterbatasannya sendiri.
Kita sering lupa, bahwa di balik setiap wajah yang kita harapkan menolong, ada hati yang juga sedang berjuang menolong dirinya sendiri. Kita memaksa mereka menjadi tempat berteduh, padahal mereka pun tengah mencari atap untuk melindungi luka-lukanya.
Kekecewaan itu bukan karena mereka jahat, tapi karena kita salah menaruh harap. Kita menaruhnya pada yang tak punya kuasa atas takdir. Kita menggantungkan beban jiwa pada pundak yang lemah, lalu marah saat pundak itu tak kuat menopangnya.
Padahal, ada satu tempat di mana harap tak pernah sia-sia: di hadapan Allah.
Ia tak pernah menutup telinga, tak pernah lupa pada janji, tak pernah pergi meski seluruh dunia berpaling.
Saat semua tangan melepaskan genggaman, tangan-Nya tetap terbuka.
Saat semua mata memalingkan pandang, pandangan-Nya tetap menyelimuti kita.
Maka belajarlah berharap dengan seimbang: kepada manusia dengan syukur, kepada Allah dengan seluruh keyakinan.
Jadikan makhluk hanya sebagai jalan, bukan tujuan. Sebab yang sejati menolong bukan mereka—tapi Dia yang menggerakkan hati mereka.
Berhentilah menggantungkan langitmu pada dahan rapuh, Sebab jika dahan itu patah, kau akan jatuh, Tapi jika langitmu kau gantungkan pada Tuhan, bahkan saat dunia runtuh, kau tetap teguh. (By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)