Mengenal dari Dekat Sosok Pawang Harimau Anak Almarhum Sarwani Sabi

Mengenal dari Dekat Sosok Pawang Harimau Anak Almarhum Sarwani Sabi
  
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Tapaktuan, KBBACEH.news – Pasca mengganasnya harimau sumatera di kawasan pegunungan Simpali, Kec. Kluet Tengah, Kab. Aceh Selatan, BKSDA Aceh menurunkan pawang harimau dari Aceh Besar ke lokasi. 

Pawang harimau, Jauhari yang tak lain adalah anak almarhum pawang harimau  Sarwani Sabi itu tiba di Kec. Kluet Tengah pada Kamis (2/2/2023) lalu, kemudian bergabung dengan tim gabungan terdiri dari BKSDA, TNGL, KPH VI Subulussalam, TNI/Polri, WCS, FKL, dan masyarakat untuk memasang 1 unit lagi perangkap di kawasan Simpali. 

Sebelumnya, Rabu 1 Januari 2023 lalu, tim gabungan sudah memasang satu unit perangkap di kawasan Simpali. Perangkap dibawa melalui sungai menggunakan perahu robin dengan jarak tempuh 2 kilometer menuju ke lokasi. 

Satwa dilindungi berjenis kelamin betina yang sebelumnya menerkam dua petani dan juga sebelumnya  menyerang 4 Tim FKL di kawasan pengunungan Simpali itu akhirnya masuk perangkap, Sabtu (4/2/2023), sekira pukul 4.00 WIB. 

Setelah masuk perangkap, tim gabungan mengevakuasi harimau dengan menggunakan perahu robin yang di gandeng dua. Saat evakuasi tersebut mesin perahu dimatikan.  Perahu melaju mengikuti arus sungai hingga ke Jambo Teka, Gampong Lawe Melang. 

Saat ini, Minggu (5/2/2023), harimau yang sebelumnya mengganas di kawasan Simpali itu ditempatkan  di Kantor TNGL, Gampong Lhok Keutapang, Kec. Tapaktuan, untuk mendapat penanganan medis dari dokter hewan yang didatangkan dari Medan. 

Kendati ditempatkan di Kantor TNGL, namun  pawang harimau Jauhari tetap memantau harimau dalam perangkap. Di Kantor TNGL itu juga hadir Camat Kluet Tengah, Muklis Anwar S.PI untuk melihat kondisi terkini “anak gadis” Simpali itu. 

Pawang harimau, Jauhari ketika dihubungi wartawan di Kantor TNGL mengisahkan pengalamannya saat proses penanganan harimau di kawasan pengunungan Simpali bersama tim gabungan. 

“Setelah pemasangan perangkap di kawasan hutan itu pada Kamis 2 Januari 2023, saya ingin tidur di lokasi sekalian ingin mancing ikan kerling,” sebutnya. 

Namun, lanjutnya, keinginan untuk tidur di lokasi sekaligus memantau perangkap dan ingin memancing ikan, urung dilakukan, karena semua tim harus kembali turun ke pemukiman penduduk. 

“Ya, keinginan tidur dan ingin mancing ikan kerling di lokasi gagal, namun pengalaman ikut terlibat penanganan harimau di Kluet Tengah ini, adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya,” ucapnya. 

Ia menyebut pengalaman berharga ini karena unsur Forkopimda Aceh Selatan dan Forkopimcam Kluet Tengah sangat kompak dan peduli terhadap gangguan raja hutan terhadap manusia. 

“Ini pengalaman yang tidak saya dapati di daerah lainnya. Semua unsur di Aceh Selatan sangat peduli terhadap keselamatan warga dan keselamatan harimau,” tuturnya. 

Jauhari asal Gampong Paro, Kec. Lhong, Aceh Besar itu sejak berusia 12 tahun sering diajak oleh sang ayah, almarhum  Sarwani Sabi menangani gangguan harimau diberbagai wilayah di Aceh. 

“Semasa kecil saya sering dibawa ayah menangani harimau yang sering masuk kampung. Karena sudah terbiasa, tidak takut lagi menangani satwa dilindungi ini,” ujarnya. 

Sejak pawang harimau Sarwani Sabi tutup usia di umur 85 tahun pada Senin 20 Juni 2022 lalu, BKSDA Aceh mengajak Jauhari untuk penanganan konflik harimau dengan manusia di berbagai daerah. 

“Sejak ayah meninggal dunia, saya pengganti ayah membantu BKSDA Aceh menangani gangguan harimau di Aceh. Di Aceh Selatan, dengan ini sudah empat kali,” tuturnya. 

Menurutnya, harimau sumatera yang masuk perangkap  ini diperkirakan masih berusia 4 tahun. Masuk perangkap terhitung dua hari paska pemasangan perangkap oleh tim gabungan. 

“Selang dua hari ia masuk dalam perangkap, mudah-mudahan tidak ada lagi konflik harimau dengan manusia di kawasan Kec. Kluet Tengah,” tutupnya. (IS/Red). 

Bagikan:

Tinggalkan Komentar