By Dr. Khairuddin, S.Ag. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – “Pernah aku menangis karena dunia tidak berpihak. Kini aku menangis, karena sadar dunia memang bukan tempat berpihak.”
Ada jenis tangisan yang keluar dari luka, dan ada jenis tangisan yang lahir dari cinta. Dulu, kita menangis dalam sujud karena merasa dunia tidak adil. Karena rencana gagal. Karena orang yang kita cintai pergi. Karena doa tak kunjung dikabulkan. Dan itu manusiawi.
Tapi akan ada saatnya kamu bersujud dan menangis… bukan karena kamu menginginkan dunia, tapi karena kamu sudah tak terlalu menginginkannya lagi.
Kamu menangis bukan karena ingin, tetapi karena sadar: ternyata hidup selama ini terlalu keras kamu genggam.
Tangisan yang Mengikis Keangkuhan
Air mata yang keluar saat sujud adalah bentuk kejujuran tertinggi. Kita tidak bisa berbohong dalam sujud. Kita tidak bisa pura-pura kuat di hadapan-Nya.
Saat air mata jatuh tanpa kata, Allah tahu segalanya. Bahkan yang tak bisa kita pahami pun, Dia tahu.
Dan kadang, saat kita tidak tahu lagi bagaimana cara memohon, tangisan itu menjadi bahasa paling dalam yang kita punya. Bahasa yang hanya bisa dibaca oleh Tuhan.
Tangisan dalam sujud bukanlah kelemahan. Itu justru kekuatan. Sebab tak semua orang mampu menangis karena Allah. Banyak yang menangis karena dunia, tapi hanya sedikit yang menangis karena merasa rindu pada-Nya.
Ketika kamu menangis, bukan karena kecewa terhadap takdir, tetapi karena merasa kecil di hadapan-Nya… maka itu bukan tangis kekecewaan, tapi tangis penyerahan.
“Ya Allah, aku tidak paham jalan-Mu. Tapi aku percaya Engkau tak pernah menyesatkan.”
Itu bukan lagi air mata tuntutan, tapi air mata penerimaan. Tangis yang lahir bukan karena ingin kabar baik, tapi karena ingin hati ini tetap dekat meski tak tahu kabar apa yang akan datang.
Jika kita mau menelusuri pelajaran dari Nabi dan Orang-Orang Terdahulu sperti Nabi Muhammad SAW sering menangis dalam sujudnya. Bukan karena dunia tidak berpihak, tapi karena beliau begitu dekat dengan Allah.
Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata: “Tangisan karena takut kepada Allah lebih aku sukai dari pada menang karena kehilangan dunia.”
Tangisan dalam sujud adalah cermin kebeningan hati. Air mata itu membersihkan, melembutkan, menenangkan. Tidak membuatmu lemah, justru menguatkan. Karena tangis yang keluar kepada Allah tidak akan pernah membuatmu kehilangan martabat, malah menumbuhkan kemuliaan jiwa.
Maka karena itulah, Jika kita pernah menangis karena kehilangan sesuatu di dunia, maka semoga kelak kita menangis karena telah menemukan kedamaian dalam sujud.
Air mata yang jatuh di bumi, tetapi terangkat ke langit. Tidak sia-sia. Tidak akan ditertawakan. Tidak akan diabaikan.
Dan ketika tangis kita tak lagi memohon dunia, di situlah kita mulai benar-benar mengenal Allah… bukan sebagai tempat meminta, tapi sebagai tempat pulang. (Red)