KBBAceh.News | Tapaktuan – Banyak orang merasa sudah bijak hanya karena ia tahu. Ia tahu apa itu sabar, ia tahu apa itu ikhlas, ia tahu apa itu cinta. Ia bahkan bisa menjelaskan panjang lebar, mengutip teori, menambahkan dalil, lengkap dengan contoh. Tapi, tahukah kita? Mengetahui itu baru sekadar membuka pintu. Sedangkan mengerti, itu masuk dan tinggal di dalam rumahnya.
Orang yang tahu tentang sabar bisa berkhutbah tentang pentingnya menahan amarah. Tapi orang yang mengerti sabar, dialah yang mampu menahan lidahnya ketika harga dirinya diinjak. Ia bukan sekadar penghafal definisi, ia adalah pelaku kehidupan.
Di sinilah bedanya: tahu itu informasi, mengerti itu transformasi.
Sering kali kita bangga dengan tumpukan pengetahuan. Kita merasa lebih tinggi dari orang lain karena “sudah tahu lebih dulu.” Padahal, tahu tanpa mengerti hanya menjadikan kita perpustakaan berjalan: banyak buku di dalam, tapi berdebu dan jarang terbaca. Sementara mengerti menjadikan pengetahuan itu berdaging—ia hidup, ia memberi rasa, ia menyembuhkan.
Pernahkah kita tahu bahwa merokok itu berbahaya? Ya, hampir semua orang tahu. Tetapi berapa banyak yang benar-benar mengerti bahayanya hingga rela berhenti? Di titik inilah hidup menampar kita dengan realita: bahwa sekadar tahu tidak cukup untuk menyelamatkan.
“Tahu” membuat kita pintar berargumen. “Mengerti” membuat kita bijak berperilaku. Tahu bisa datang dari guru, dari buku, dari layar ponsel. Tapi mengerti lahir dari luka, pengalaman, kejatuhan, dan kebangkitan. Tahu bisa dihafal, mengerti harus dijalani.
Maka, jangan cepat merasa hebat hanya karena kita tahu banyak hal. Ujian hidup tidak menanyakan apa yang kita tahu, melainkan apa yang benar-benar kita mengerti. Sebab di hadapan Tuhan, bukan seberapa pandai kita mengutip, tapi seberapa ikhlas kita menjalani.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)