Doa dan Harapan Keluarga

Doa dan Harapan Keluarga
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Tulisan kali ini sengaja disusun untuk membahas secara mendalam tentang doa serta harapan yang ada dalam sebuah keluarga, yang dirangkaikan dengan indahnya firman Allah dalam Al-Quran, lebih tepatnya pada surah Al-Furqan ayat 74, dimana Allah memberikan petunjuk dan hikmah bagi keluarga yang mendambakan kebaikan.
“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (qurrata a‘yunin) bagi kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'”(QS. Al-Furqan ayat 74)
Ayat ini adalah potret doa indah yang dipanjatkan oleh hamba-hamba Allah yang disebut ‘ibādur-raḥmān (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih). Di antara ciri mereka bukan sekadar ibadah malam yang panjang, bukan hanya kesederhanaan hidup, tetapi juga doa agar keluarga mereka menjadi sumber kebahagiaan.
Kata kunci ayat ini adalah “qurrata a‘yunin”, yang secara harfiah berarti “penyejuk mata.” Dalam budaya Arab klasik, air mata bisa keluar karena dua hal: duka atau bahagia. Tetapi “penyejuk mata” merujuk pada air mata bahagia yang menenangkan jiwa.
Seolah-olah doa ini mengatakan: “Ya Allah, jangan jadikan keluarga kami sumber air mata kesedihan, tapi jadikan mereka sumber air mata kebahagiaan.”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa penyejuk mata adalah ketika seorang hamba melihat istri dan anak-anaknya taat kepada Allah, itulah kebahagiaan sejati.
Begitu juga Al-Maraghi menjelaskan bahwa doa ini mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat. Dunia, dengan adanya pasangan dan keturunan yang menenteramkan; akhirat, dengan mereka bersama-sama masuk surga.
Sedang Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan visi keluarga yang visioner. Bukan sekadar doa agar anak sukses duniawi, tapi doa agar keluarga menjadi pemimpin kebaikan di masyarakat.
Ada kisah menarik dari seorang ulama. Beliau berkata “Aku berdoa agar anak-anakku menjadi qurrata a‘yunin bagiku. Dan aku sadar, qurrata a‘yunin bukanlah ketika aku melihat mereka kaya, pintar, atau terkenal. Tapi ketika aku melihat mereka menegakkan shalat, membaca Al-Qur’an, dan menjaga akhlak. Karena kalau hanya kaya dan pintar, tapi jauh dari Allah, maka itu bukan penyejuk mata, tapi justru duri di mata.”
Sebagai Analogi sederhana, apa yang membuat seorang ayah menangis di hari tuanya? Apakah karena anaknya naik jabatan, atau karena anaknya mengimami shalatnya di rumah? Apa yang membuat seorang ibu tersenyum di liang lahad? Apakah karena anaknya meninggalkan harta warisan, atau karena anaknya menghadiahkan doa setiap malam?
Kalau kita jujur, doa yang paling sering kita panjatkan untuk anak biasanya begini:
“Ya Allah, jadikan anakku sehat, pintar, lulus ujian, masuk sekolah favorit, dapat kerja bagus.”
Tapi coba kita bandingkan dengan doa para hamba Allah dalam Al-Qur’an:
“Ya Allah, jadikan anakku penyejuk mata, imam bagi orang-orang bertakwa.”
Pernahkah kita sadar, bahwa doa kita sering kali sangat duniawi? Kita lebih khawatir anak tidak naik kelas daripada khawatir anak tidak shalat. Kita lebih gelisah anak tidak masuk universitas ternama daripada takut anak tidak mengenal Allah.
Pertanyaan yang agak mengusik adalah Apakah anak-anak kita kelak akan menjadi penyejuk mata di dunia, atau justru menjadi penyesak dada di akhirat?
Doa dalam ayat ini menunjukkan visi keluarga Islami yang sejati: keluarga yang tidak hanya sukses di dunia, tapi juga bahagia bersama menuju akhirat. Suami, istri, dan anak-anak bukan sekadar kebersamaan biologis, tapi kebersamaan spiritual yang saling menguatkan menuju surga.
Doa yang diajarkan Al-Qur’an untuk keluarga bukanlah sekadar doa duniawi, melainkan doa yang menggabungkan dunia dan akhirat. Keluarga ideal adalah keluarga yang menjadi penyejuk mata, bukan karena materi, tapi karena ketaatan. Dan hanya keluarga yang berorientasi kepada Allah yang akan benar-benar menjadi penyejuk mata, bahkan hingga di surga.
(By. Dr. Khairuddin, S.Ag,.MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar