KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada satu rahasia besar yang Allah bukakan dalam Al-Qur’an. Dia berkata bahwa orang-orang yang diberi kitab sebelum kita, mereka sebenarnya sudah mengenal Nabi Muhammad SAW sebagaimana seorang ayah mengenal anak kandungnya. Coba bayangkan seorang ayah bisa saja salah mengenali anak orang lain, tapi hampir mustahil ia salah mengenali anaknya sendiri. Itulah betapa jelasnya tanda-tanda kenabian Muhammad SAW di dalam Taurat dan Injil.
Namun, kejelasan itu tidak selalu berbuah iman. Ada hati yang memilih menutup diri, bukan karena tak mengerti, melainkan karena iri, gengsi, dan takut kehilangan kedudukan. Kebenaran itu seperti matahari di siang bolong—terang benderang—tetapi ada orang yang menutup rapat jendela rumahnya, lalu berkata, “Aku tidak melihat cahaya.” Bukan matahari yang salah, tapi hati yang enggan menerima.
Lalu Allah bertanya dengan nada mengguncang,
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ ۚ
“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berdusta atas nama Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya?”
Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan, melainkan tamparan lembut untuk hati kita. Bukankah zalim yang paling besar adalah saat lidah berani membuat-buat atas nama Allah, atau ketika telinga menolak mendengar firman-Nya? Itu seperti seorang pasien yang sudah diberi resep obat paling mujarab, tapi ia menolaknya dan malah menelan racun dengan tangannya sendiri. Siapa yang paling rugi kalau bukan dirinya?
Allah menutup ayat itu dengan kalimat yang membuat kita terdiam:
إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.”
Tidak ada keberuntungan sejati dalam hidup yang dipenuhi dusta kepada Allah. Barangkali mereka terlihat berjaya sebentar di dunia, tetapi jiwa mereka kering, gelisah, dan kosong. Keberuntungan hanyalah milik mereka yang jujur pada Allah, yang mau membuka mata hatinya, lalu tunduk dengan rendah hati di hadapan kebenaran.
Wahai saudaraku…
Kadang kita tidak jauh berbeda. Kebenaran sudah ada di depan mata, tetapi hawa nafsu dan gengsi membuat kita pura-pura tidak melihat. Semoga kita tidak menjadi seperti orang yang mengenal anaknya sendiri tapi pura-pura asing, atau seperti orang sakit yang menolak obat penyembuh. Mari kita belajar rendah hati, sebab pintu keberuntungan hanya terbuka bagi mereka yang mau menerima cahaya Allah dengan ikhlas.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)