KECERDASAN EMOSIONAL DAN INTELEKTUAL KUNCI KEBERHASILAN

KECERDASAN EMOSIONAL DAN INTELEKTUAL KUNCI KEBERHASILAN
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Sering dikatakan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya bergantung pada kepintaran otak. Penelitian dan pengalaman hidup membuktikan bahwa hanya 20 persen kesuksesan ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ), sementara 80 persen sisanya datang dari kecerdasan emosional (EQ).
Di dunia pekerjaan dan jabatan, kenyataan ini semakin jelas. Banyak orang yang lulus dengan predikat terbaik, tetapi sulit berkembang karena kurang mampu mengelola emosi dan berhubungan baik dengan orang lain. Sebaliknya, mereka yang memiliki sikap rendah hati, sabar, dan mampu memahami orang lain, justru sering mendapatkan kepercayaan lebih besar, meski secara akademik tidak terlalu menonjol.
Namun, apa yang terjadi jika keduanya tidak diisi dengan baik? Misalnya, kecerdasan intelektual hanya 10 dari 20 persen, dan kecerdasan emosional hanya 45 dari 80 persen. Totalnya hanya 55 persen. Ini berarti setengah potensi diri tidak terpakai. Dalam kondisi seperti ini, muncul berbagai masalah: keputusan diambil dengan pertimbangan lemah, hubungan dengan orang lain sering tegang, serta ada ruang kosong yang mudah diisi oleh nafsu, ambisi, atau bahkan penyalahgunaan kekuasaan.
Di sinilah awal mula kezaliman, kecurangan, bahkan korupsi. Bukan semata karena orang itu bodoh, tetapi karena ia gagal menyeimbangkan kecerdasan otak dengan kecerdasan hati.
Coba kita Bayangkan seorang pemimpin di sebuah instansi. Ia cerdas secara akademik—mampu menyusun laporan, memahami regulasi, dan fasih berbicara di forum resmi. Namun, kecerdasan emosionalnya lemah: ia mudah marah, tidak mau mendengar saran bawahan, dan sering mengambil keputusan hanya berdasarkan kepentingan pribadi.
Apa yang terjadi?
Bawahannya bekerja dengan rasa takut, bukan dengan ketulusan.
Kebijakan yang dibuat terasa berat sebelah, menguntungkan kelompok tertentu.
Akhirnya, ruang kepercayaan hilang, muncul praktik kecurangan, bahkan korupsi, karena sistem kepemimpinan tidak dijaga dengan integritas.
Sebaliknya, kita juga bisa melihat contoh lain: seorang pemimpin yang mungkin tidak terlalu menonjol secara akademis, tetapi penuh empati. Ia mendengarkan keluhan staf, mengajak musyawarah sebelum mengambil keputusan, dan memberi teladan dengan hidup sederhana. Meski tidak selalu sempurna, gaya kepemimpinan seperti ini menumbuhkan kepercayaan dan membuat tim bekerja dengan hati.
Dari uraian diatas dapat di simpulkan bahwa Jabatan bukanlah soal siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling mampu menjaga hati dan amanah. IQ memberi arah berpikir, EQ memberi kekuatan untuk mengelola diri dan orang lain. Jika keduanya seimbang, lahirlah kepemimpinan yang adil, bersih, dan penuh keteladanan.
Sebab, tanpa kecerdasan emosional yang matang, kekosongan itu akan cepat diisi oleh nafsu, yang pada akhirnya melahirkan kezaliman dan korupsi.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag., MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar

error: Jangan Suka Copy Punya Orang, Jadilah Manusia Yang Kreatif!!