Ketika Pemimpin Jadi Tuntutan, Bukan Teladan

Ketika Pemimpin Jadi Tuntutan, Bukan Teladan
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin, S.Ag. MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Mari kita berpikir sejenak—dengan secangkir kopi dan sedikit senyuman.

Bagaimana rasanya bekerja di bawah pimpinan yang tiap hari berkata: “Kerja itu harus profesional, tepat waktu, dan berintegritas!”

Tapi sayangnya, jam kerja beliau saja seperti jam antik—kadang bunyi, kadang tidak.

Beliau datang ke kantor seperti bintang tamu. Kadang hadir, kadang hanya namanya yang tercantum di papan struktur. Tapi anehnya, beliau selalu tahu siapa yang telat, siapa yang banyak diam, siapa yang pulang cepat—padahal beliau sendiri jarang terlihat.

Mungkin punya CCTV spiritual? Wallahu a’lam.

Dalam forum resmi, beliau bicara panjang soal etika dan kinerja. Tapi giliran bawahan ingin konsultasi, jawabannya:

“Saya sibuk. Kirim WA saja.”

Padahal saat itu sedang main game catur online. Profesional banget.

Pergaulan beliau pun cukup… unik. Ramah pada yang dianggap “berguna”, acuh pada yang “biasa-biasa”. Jadi kalau kamu sedang rajin-rajinnya kerja tapi tak masuk daftar ‘anak emas’, jangan heran kalau senyumnya tipis, bahkan mungkin dianggap angin lalu.

Tapi inilah lucunya dunia birokrasi:

Pimpinan tidak harus bisa dulu, yang penting bisa menyuruh.

Pimpinan tidak harus disiplin dulu, yang penting bisa marah.

Dan pimpinan tidak harus memberi contoh, cukup memberi tuntutan.

Padahal kalau kata orang tua:

“Kalau mau nyuruh orang bersih-bersih, sapunya jangan kamu sembunyikan.”

Kalau pemimpin ingin timnya semangat, dia harus jadi api pertama yang menyala, bukan jadi batu es yang diam di sudut ruangan.

Jadi, kalau ada pimpinan yang begini—berharap bawahannya bersinar tapi dirinya sendiri gelap—maka itu ibarat lilin yang lupa dinyalakan, tapi marah karena ruangan tetap gelap.

Kita doakan saja, semoga beliau segera menemukan cermin yang jujur—yang tidak hanya memantulkan bayangan, tapi juga menyuarakan kenyataan:

Bahwa memimpin itu bukan hanya soal posisi, tapi soal memberi inspirasi. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar