Ketua Pemuda Gampong Keude Bakongan Klarifikasi Peristiwa Pemukulan Terhadap Dirinya

Ketua Pemuda Gampong Keude Bakongan Klarifikasi Peristiwa Pemukulan Terhadap Dirinya
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Tapaktuan, KBBAceh.news – Terkait dengan pemberitaan melalui media online yang dirilis pada 30 Juni 2023 dengan judul “Warga dan Ketua Pemuda di Aceh Selatan Baku Hantam Gegara Spanduk Bacaleg”

Ketua Pemuda Gampong Keude Bakongan, Kecamatan Bakongan Junaidi yang juga korba dari pemukulan oleh warganya mengklarifikasi bahwa dalam pemberian tersebut banyak yang tidak sesuai dengan kronologi sebenarnya

Ia menjelaskan bahwa kejadian yang sebenarnya ada seorang pemuda menelpon dirinya (Ketua pemuda) untuk memberi tau bahwa ada orang pasang baleho di Simpang Raja Gampong Keude Bakongan

“Jadi saya sebagai ketua pemuda menjumpai yang pasang baleho bernama irhas Muliadi alias burek dan bertanya “baleho siapa ? dengan cara cukup sopan dan dia (Pelaku) menjawab baleho Uda budi. Kemudian saya tanya lagi, apa ada lapor sama pemuda, jawaban dia kenapa harus lapor ini kampung saya katanya, lalu saya berkata “kami pemuda uda sepakat kalo pasang baleho harus tau pemuda guna untuk menghindari nanti entah siapa -siapa yang pasang baleho bacaleg di Keude bakongan hal itu untuk menjaga keindahan dan tertip nya baleho.” Ungkap Ketua Pemuda Sambil meniru beberapa ucapan pelaku pemukulan tersebut

Lebih lanjut, Jelas Ketua Pemuda, dia (Irhas pelaku) berkata “aku mau liat siapa yang kasih turun baleho berkelahi sama saya”

“Lalu saya (Ketua pemuda) bilang jangan pasang dulu panggil uda Budi terlebih dulu. Kemudian saya memegang baleho untuk tidak dipasang dulu” Jelasnya

Kemudian, Kata Junaidi, irhas alias burek memanggil Burhanuddin alias bang buyong, secara emosi bang buyong pergi ke saya dengan kereta Supra anak dia yang kecil di depan dan tanpa basa-basi dia menabrak saya, sambil berkata. “preman kamu, kampung nenek kamu ini, buat aturan suka-suka kamu”, sambil melayangkan pukulan ke arah saya.

“Tapi Alhamdulillah pukulan nyan dapat saya hindari sambil saya berkata bang kita saudara kok kek gini, “preman kamu” kata dia lagi, habis itu irhas berkata ke saya kupukul pakek balok ini nati kamu, kemudian saya jawab sambil melentangkan dada coba kalo kamu berani, kenapa saya bilang begitu, Karena saya yakin irhas alias burek tidak akan melakukan nya,”

Setelah cekcok tersebut, Kata Junaidi, banyak masayarakat yang datang untuk meleraikan perkelahian tersebut

“Buyong pulang dan saya pergi, tanpa saya duga rupanya bang buyong balek lagi, mungkin karna dia belum puas, disitulah terjadi lagi keributan, dia memukul saya kan enggak mungkin saya diam saja terjadi lah perkelahian sambil semua orang meleraikan,” Jelanya

Lebih lanjut, Ungkap Junaidi, tiba-tiba terasa ada orang menghatam punggung dirinya dengan balok, rupanya yang memukul lewat belakang tersebut adalah irhas alias burek,sampe balok itu patah tiga.

“Kemudian semua warga bantu meleraikan saya dan membawa ke puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan serta visum. Hal itu juga untuk bukti ke jalur hukum,” Bebernya

Ia juga menjelaskan bahwa pada malamnya tepatnya malam minggu pasca kejadian tersebut dirinya mengalami sesak nafas sehingga harus di larikan ke Puskesmas Bakongan, Namun pihak Buyong malah berangkat ke Medan.

Setelah itu kata Junaidi, Dirinya membuat pelaporan Ke Polsek, dan menunggu itikad baik dari Buyong selama beberapa hari untuk meminta maaf namun tak kunjung datang dan baru hari ke empat setelah peristiwa dia datang kerumah.

“Pada pernyataan nya dimedia yang mengatakan bahwa dia (buyong) sepulang dari Polsek langsung kerumah saya itu bohong, semua pemuda dan warga tau termasuk muspika dan Tgk imum tau kalo dia datang hari ke empat setelah peristiwa itu di dampingi tuha peut, Keuchik dan Jailani keponakan buyong,” Ungkapnya

Lebih lanjut, Kata Junaidi, terkait pernyataan dan anggapan buyong terhadap aparatur desa mengulur – mengulur waktu perdamaian itu juga tidak benar

Pasalnya Kata Junaidi, malam hari raya Idul Adha 1444 H setelah takbiran, semua unsur dari Polsek, Camat, tuha peut, Tgk imum, keuchik, warga dan semua unsur yang ada kaitannya dengan hukum dan adat semua hadir untuk merumbuk memutuskan kapan dan gimana cara perdamaian tersebut

“Saya juga menyampaikan rasa kecewa terhadap salah satu media online yang memberitakan kejadian tersebut tanpa mengkonfirmasi saya (ketua pemuda) sebagai korban pemukulan itu, terkesan hanya sebelah pihak saja, semestinya harus berimbang, jangan asal naikin terus. Saya berharap jangan perkeruh lagi suasana perdamaian kami.” Pungkasnya.(Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar