MENANGKAP CAHAYA KEBENARAN

MENANGKAP CAHAYA KEBENARAN
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan –  Bukankah peringatan-peringatan yang diberikan oleh Allah telah dengan jelas dinyatakan dan dituliskan secara gamblang dalam kitab Al Qur’an yang menjadi pedoman hidup bagi umat Islam. Namun, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri mengapa, meskipun begitu terang dan nyata, kita sebagai manusia kadangkala meragukan ayat-ayat tersebut? Sebagai contoh yang nyata adalah saat kita membaca Alquran terutama dalam Surat An’am ayat 104, dimana Allah memperingatkan kita tentang berbagai hal yang sangat penting untuk kita perhatikan dan renungkan dalam kehidupan sehari-hari. Apakah keraguan ini timbul karena kurangnya pemahaman ataukah lantaran kondisi hati yang belum sepenuhnya berserah diri kepada ajaran yang tertulis? Allah berfirman :
﴿قَدْ جَاءَكُم بَصَائِرُ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا ۚ وَمَا أَنَا۠ عَلَيْكُم بِحَفِيظٍ﴾
Artinya : “Sungguh, telah datang kepadamu bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka barangsiapa melihat (kebenaran), maka (manfaatnya) untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka (kerugiannya) akan menimpa dirinya sendiri. Dan aku (Muhammad) bukanlah penjaga atas dirimu.”
Ayat ini turun berkenaan dengan kaum Quraisy yang terus menuntut mukjizat kasat mata, padahal Al-Qur’an sendiri adalah mukjizat terbesar. Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah بَصَائِرُ (cahaya-cahaya penglihatan hati), yang hanya dapat ditangkap oleh orang yang mau membuka batinnya.
Ayat ini turun di Makkah ketika kaum Quraisy menolak risalah Nabi SAW. Mereka melihat mukjizat dengan mata kepala, tetapi menolak dengan hati. Di sisi lain, orang-orang miskin, budak, dan mereka yang tersisihkan secara sosial justru melihat kebenaran itu dengan mata hati.
Sejarah peradaban juga mencatat, setiap kali sebuah bangsa membuka diri terhadap “cahaya kebenaran” — entah dalam bentuk ilmu, moral, atau agama — mereka bangkit dan menjadi kuat. Tetapi saat mereka menutup mata terhadap cahaya itu, mereka runtuh meskipun memiliki kekuatan militer atau ekonomi.
Rasulullah SAW diingatkan bahwa tugas beliau hanya menyampaikan, bukan menjaga manusia dari kesesatan secara paksa. Karena sesungguhnya, iman adalah pilihan eksistensial: pilihan sadar seorang manusia untuk melihat dengan mata hati.
Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri:
Apakah kita hidup dengan mata yang hanya melihat dunia luar, ataukah kita sudah menyalakan mata batin untuk menangkap cahaya kebenaran yang Allah hamparkan di setiap sudut kehidupan?
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar