Menghapus Doa-doa yang Egois

Menghapus Doa-doa yang Egois
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin, S.Ag. MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – “Terlalu lama aku berdoa hanya untuk diriku sendiri. Padahal, cinta yang dewasa tahu cara memeluk dunia dalam doanya.”

Pernahkah kamu merenung sejenak setelah berdoa? Di tengah panjangnya pinta, adakah terselip satu kalimat, “Ya Allah, mudahkan juga jalan orang lain”?

Kita terbiasa berdoa: “mudahkan urusanku”, “lancarkan rezekiku”, “jauhkan aku dari penyakit”, “angkat derajatku”… dan begitu seterusnya. Semuanya tentang aku. Tentang diriku, Padahal, hidup ini bukan hanya tentang kita.

Doa yang egois adalah doa yang tidak salah, tetapi tidak cukup dewasa. Ia hanya mencerminkan sisi rapuh yang belum tumbuh.

Kita belum benar-benar mengenal makna cinta, jika dalam sujud pun masih hanya bicara soal kita sendiri.

Padahal di luar sana ada ibu yang sedang menangis di tikar doa, ada anak yang bingung mencari arah hidup, ada suami yang kehilangan pekerjaan, ada istri yang bertahan dalam sabar. Dan mungkin mereka tak sekuat kita dalam meminta.

Maka, apakah tidak lebih indah jika kita sisipkan mereka dalam doa kita?

Rasulullah SAW pernah bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidaklah seorang Muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga seperti itu.’”(HR. Muslim)

Lihatlah, betapa Allah menghargai doa yang keluar dari hati yang peduli. Doa yang tidak egois justru berbalik menjadi kebaikan bagi yang mendoakan.

Ketika kamu berdoa agar sahabatmu diberi ketenangan, Allah menjanjikan ketenangan pula untukmu. Ketika kamu minta seorang yatim disayang Allah, malaikat pun mengamini agar kamu juga disayang.

Doa seperti ini tidak hanya mendewasakan iman, tapi juga menyuburkan kasih dalam semesta.

Coba kita lihat ketika Nabi Ibrahim AS berdoa bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk anak keturunannya. Nabi Nuh AS berdoa agar umatnya diberi ampun. Nabi Muhammad SAW menangis, memohon agar umatnya tak dibinasakan.

Mereka adalah manusia pilihan yang mengerti bahwa doa adalah jalan untuk mencintai.

Dan saat kita mengikuti jejak itu, kita tidak hanya sedang berharap sesuatu kepada Allah, tapi sedang meniru akhlak para kekasih-Nya.

Wahai saudaraku…

Mulai hari ini, cobalah hapus satu doa egois dan ganti dengan satu doa yang inklusif.

Daripada “Ya Allah, aku ingin cepat menikah,” cobalah juga “Ya Allah, bahagiakan hati semua hamba-Mu yang sedang menanti jodoh.”

Daripada “Ya Allah, mudahkan aku lolos seleksi CPNS,” tambahkan “Dan berikan jalan terbaik untuk mereka yang juga sedang berjuang.”

Karena kadang, kebahagiaan tidak datang dari doa yang dikabulkan, tapi dari hati yang belajar peduli dalam sujudnya.

Dan Allah… tidak pernah mengabaikan hati seperti itu. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar