KBBAceh.News | Banda Aceh – Kadang hati jatuh pada sosok yang terasa begitu tepat. Ia hadir seperti hujan pertama setelah kemarau panjang—menyejukkan, memberi harapan, dan membuat masa depan tampak mungkin.
Seorang laki-laki pernah merasakan itu. Ia jatuh hati pada seorang perempuan yang ia yakini sebagai pelengkap kisah hidupnya. Ia ingin menikahinya, ingin berjalan bersama dalam setiap musim yang datang. Namun takdir punya rencana lain.
Perempuan itu dilamar oleh lelaki lain. Ia mencoba menolak, tapi bagaimana menolak sesuatu yang datang dengan cara yang begitu baik? Tak ada alasan yang dapat ia ajukan untuk membatalkan. Sementara laki-laki yang mencintainya hanya bisa menggenggam angin—kuat rasa, tapi tak punya kuasa.
Laki-laki itu pun bergumul dengan rasa cemburu yang ingin memberontak. Tetapi pada akhirnya ia memilih untuk melepaskannya—dengan segala kekuatan yang tersisa. Ia berhenti menelpon, menghindari pertemuan, menyibukkan diri dengan kegiatan apa pun yang dapat menyapu bayangan perempuan itu dari hidupnya. Bahkan ia memutuskan untuk tak lagi melihat namanya—seolah nama itu adalah gerbang menuju luka.
Namun di balik itu semua, ada kekuatan besar yang perlahan tumbuh: kekuatan untuk merelakan.
Sebab cinta yang dewasa tak melulu tentang memiliki. Kadang, cinta justru diuji dari seberapa tulus kita mampu melepaskan seseorang yang kita inginkan… agar ia menemukan kebahagiaannya, meski bukan bersama kita.
Dan bukankah begitu caranya Tuhan mengajari kita arti ketabahan?
Bahwa yang bukan untukmu, sekuat apa pun kau genggam, tetap akan terlepas.
Bahwa yang ditakdirkan untukmu, sejauh apa pun ia pergi, tetap akan kembali.
Jika hari ini kamu belajar melepas sesuatu yang kamu sangat inginkan, itu bukan kegagalan. Itu adalah tahap pendewasaan. Bukan luka untuk disesali, melainkan pelajaran untuk disyukuri.
Laki-laki itu akhirnya mengerti:
Cinta sejati tetap ada, meski tak menetap.
Dan hati yang mau mengikhlaskan, suatu hari akan dianugerahi yang lebih tepat.
Tetaplah percaya…
Bahwa Tuhan tahu kapan harus mengambil sesuatu darimu,
dan kapan harus memberikan yang jauh lebih baik untukmu.
Tulisan ini ditulis hasil dari konsultasi seseorang yang sedang gelisah ditinggal menikah oleh wanita yang dicintai.
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)