By Dr. Khairuddin MA
KBBAceh.News | Tapaktuan, – Sabar seringkali dimaknai sebagai diam dalam penderitaan. Duduk pasrah di tengah beban, menanti pertolongan dari langit tanpa usaha. Padahal, sabar sejati bukanlah sikap pasif. Sabar yang sejati adalah kekuatan yang tenang namun bergerak, menunggu dengan ikhtiar, menahan dengan rencana, bertahan dengan strategi.
Sabar bukan hanya soal menahan marah ketika dihina. Lebih dari itu, sabar adalah tetap fokus menggapai tujuan meski hasil belum tampak. Ia bukan hanya penyangga di saat badai datang, tapi juga mesin penggerak saat angin tenang.
Sabar adalah proses mencintai jalan panjang.
Lihatlah para petani yang menanam benih. Mereka tidak meratap karena tanah kering, tapi tetap menyiram. Mereka tidak mengeluh karena matahari terlalu terik, tapi percaya bahwa waktu akan menumbuhkan. Itulah sabar produktif — berserah sambil bekerja, berharap sambil berusaha, berdoa sambil bergerak.
Sabar produktif adalah kekuatan orang-orang besar yang kita kagumi.
Seseorang yang menulis buku hingga selesai — dia sabar.
Seorang ibu yang mendidik anak bertahun-tahun tanpa pamrih — dia sabar.
Seorang guru yang mengajar di pelosok tanpa sorotan kamera — dia sabar.
Mereka tidak hanya diam. Mereka sabar dalam aksi.
Sabar bukan menunda, tapi menata.
Sabar bukan lamban, tapi matang.
Sabar bukan alasan untuk berhenti, tapi bekal untuk terus melaju dengan hati yang kuat.
Kalau kita hanya sabar saat susah, kita akan melewatkan keajaiban sabar dalam nikmat.
Sabar saat diberi rezeki — agar tidak sombong.
Sabar saat berhasil — agar tidak lengah.
Sabar saat dihormati — agar tidak tergelincir.
Jadikan sabar sebagai gaya hidup, bukan sekadar pelarian.
Berlatih sabar setiap hari — dalam antrean, dalam lalu lintas, dalam diskusi, dalam kerja, dalam impian yang belum jadi nyata.
Karena sejatinya, sabar adalah tanda bahwa kita sedang disiapkan, bukan dilupakan.
Sabar yang produktif adalah sabar yang menghasilkan.
Menghasilkan karya.
Menghasilkan akhlak.
Menghasilkan perubahan.
Dan pada akhirnya, menghasilkan diri kita yang baru: lebih kuat, lebih bijak, dan lebih dekat kepada Tuhan. (Red)