Surga dan Jabatan: Siapa yang Lebih Layak Dikejar?

Surga dan Jabatan: Siapa yang Lebih Layak Dikejar?
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
By Dr. Khairuddin, S. Ag., MA
KBBAceh.News – Tapaktuan – Mari kita jujur sejenak. Kalau ada lowongan jadi Kepala Dinas atau CEO perusahaan besar, kira-kira berapa banyak yang mau daftar?
Jawabannya: pasti banyak yang ikut.
Formulir pendaftaran bisa habis dalam sehari, dan yang daftar dari lulusan S1 sampai S3, dari yang punya pengalaman sampai yang cuma modal nekat. Semua siap berkompetisi.
Sekarang pertanyaannya:
Kalau Allah buka “lowongan penghuni surga”, siapa yang sungguh-sungguh mau daftar dan siap bersaing?
Eh, jangan-jangan malah jawabnya: “Lihat nanti saja deh, tergantung takdir…”
Tolong, Jangan Salah Fokus
Kita ini sering kali salah fokus. Dunia kita kejar habis-habisan, akhirat kita sambil lalu.
Padahal jabatan dunia itu ada masa pensiunnya, dan harta itu ada masa habisnya.
Surga?
Tidak ada kata pensiun, tidak ada habisnya, tidak ada laporan pertanggungjawaban mingguan. Cuma satu syarat: masuk dulu.
Allah bahkan sudah bilang “Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)
Loh, ayat ini muncul setelah Allah jelaskan kenikmatan surga. Artinya, bukan cuma lomba cari proyek atau jabatan, tapi juga lomba cari pahala.
Tapi sayangnya, kita lebih panik kalau dipecat dari kerjaan dibandingkan kalau lalai dari salat.
Lihat fenomena ini:
Saat ada diskon 90% di toko online, Kita pasang alarm, bangun subuh-subuh, rebutan flash sale sambil setengah ngantuk.
Namun Saat ada panggilan azan subuh, Kita tarik selimut dan bilang, “Nanti aja deh… masih gelap juga di luar.”
Lucu? Iya.
Sedih? Juga iya.
Tapi ini fakta. Kita serius banget urusan dunia, dan bercanda banget urusan akhirat.
Kalau Dunia Kompetitif, Akhirat Apalagi!
Coba lihat, untuk jadi camat aja harus ikut diklat, uji kompetensi, kadang lobi-lobi.
Tapi untuk masuk surga?
Allah kasih jalannya terang benderang: shalat, sedekah, puasa, akhlak baik, tolong orang, jaga lisan.
Cuma bedanya, Dunia: kita semangat karena pengen dipuji dan digaji. Sedang Akhirat: kita males karena belum lihat langsung surganya.
Padahal logikanya:
Kalau kita belum pernah lihat emas, tapi percaya itu berharga, kenapa kita ragu pada surga yang janjinya langsung dari Allah?
Rasulullah Sudah Kasih Kode Keras bahwa “Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
Nah loh.
Yang sering ikut webinar “mental health” dan “self development”, jangan lupa: Self development terbaik adalah mengembangkan diri untuk hidup sesudah mati.
Bayangkan kalau pintu surga dijaga panitia seleksi seperti CPNS: Ada tes CAT, Ada SKCK amal, Ada rekam jejak niat, Dan sidang akhir: “Apa alasan kamu layak masuk surga?”
Apa kita siap?
Jangan-jangan kita malah bingung jawabnya,
sementara untuk wawancara kerja dunia, kita hafal semua visi-misi kementerian, instansi dan perusahaan
Ayo Berpindah Jalur: Dari Ambisi Dunia ke Ambisi Surga, bahwa Kita nggak dilarang sukses di dunia. Tapi jangan sampai dunia menghalangi kita untuk sukses di akhirat.
Kalau selama ini kita bisa serius ngurus promosi jabatan, proyek tender, upgrade CV dan skill digital…
Kenapa nggak kita upgrade juga Kualitas salat, Rutinitas dzikir, Rasa takut dan cinta kepada Allah Dan daftar amal jariyah kita?
Karena pada akhirnya…
Gaji akan habis. Jabatan akan diganti. Tapi pahala akan kekal. Jadi, kamu lagi serius ngejar yang mana?
Siap kejar surga? Atau masih kejar diskon 11.11?
Kalau tulisan ini membuatmu senyum-senyum sambil berpikir keras, maka itu artinya kamu sedang berproses untuk sadar.
Itu langkah awal menuju kemenangan. Tinggal diteruskan dengan amal. (Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar