Tapaktuan, KBBACEH.news – Koordinator Forum Peduli Aceh Selatan (For-PAS) Teuku Sukandi optimis jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan, serius memperhatikan tambang tradisional, maka akan mendulang PAD (Pendapatan Asli Daerah).
“Karena hampir semua kecamatan di Aceh Selatan ini dari, Kec. Labuhanhaji Timur hingga Kec. Kluet Tengah terdapat ribuan hektar kawasan tambang rakyat,” kata Teuku Sukandi di Tapaktuan, Minggu (10/4/2022).
Begitu juga sambungnya, di kawasan itu terdapat ribuan pula jumlah lobang galian tambang tradisional masyarakat, dengan ribuan mesin gelendongan penghasil limbah tambang yang tersebar dihampir kecamatan.
“Lobang galian dan masing gelendongan itu menghasilkan ratusan ton limbah menumpuk setiap hari dimasing-masing lokasi tempat pengolahan tambang rakyat di Aceh selatan,” ungkapnya.
Disebutkan, bila Pemkab Aceh Selatan jeli melihat peluang bisnis ini untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan PAD Aceh Selatan maka bukan-lah mustahil Aceh Selatan akan menjadi kabupaten tertinggi penghasilannya dan terbesar APBK-nya di Sumatra.
“Hal ini bisa terwujud dengan adanya pabrik yang akan menyerap ribuan tenaga kerja baik para penambang tradisional maupun tenaga kerja yang dibutuhkan oleh pabrik,” ucapnya.
Ia mengatakan lagi, tentu pabrik boleh modren dan canggih tetapi dilapangan untuk menghindari kerusakan alam, masyarakat tetap melakukan penambangan secara tradisional yang seperti sekarang ini tidak memakai alat berat mereka memakai alat sederhana secara manual saja.
“Maka dari hasil penelitian yang saya lakukan bersama teman – teman yang ahli dibidang pertambangan didalam setiap limbah tambang tradisional yang bertumpuk-tumpuk di jual hampir tidak ada harganya itu Rp.200/ kg.
“Atau Rp.200.000/ ton, ternyata didalam limbah itu mengandung mineral tembaga rata-rata 30% (harga pasaran tembaga didalam negeri Rp.105.000 s/d Rp.120.000 /Kg,” ungkapnya.
Jika saka dihitung dengan sederhana, jumlah limbah di Aceh selatan setiap hari dari jumlah 1000 mesin gelendongan saja memproduksi limbah 0,5 ton atau 500 Kg/mesin gelendongan setiap hari.
“Maka Aceh selatan menghasilkan limbah rata 500 ton atau 500.000 kg /Hari (1 Tahun dihitung 300 hari saja maka 300 x 500.000 Kg = 150.000.000 kg) /tahun (ini hitungan minimal),” paparnya.
Maka bila di kalkulasikan secara ekonomis hasil limbah Aceh selatan dalam bentuk rupiah per tahun-nya adalah :
150.000.000 Kg x 30 % Tembaga x Rp. 100.000,- saja (harga pasaran tembaga nasional) maka jumlahnya = Rp. 5.000.000.000.000,- ( 5 Triliyun ) / Tahun
Bila Pemerintah dapat menghadirkan Investor ke Aceh Selatan untuk mendirikan Pabrik Tembaga murni yang dapat mengolah Limbah ( Devosit atau cadangan batu tembaga atau batu hijau di Aceh Selatan jumlahnya jutaan ton seperti Pabrik yang ada di Serang Banten atau di Sulawesi atau Pabrik Tembaga yang ada di Jakarta.
Tentu mimpi Aceh Selatan akan menjadi kenyataan sebagai Kabupaten terkaya di Sumatra, cukup dengan mendapat Deviden atau bagi hasil keuntungan dari Perusahaan.
Atau peluang ini dibiarkan saja berlalu dan mengambang begitu saja dimana limbah ini jalan sendiri ke pabrik-pabrik menyeberang lautan dengan nilai ekonomi yang ditinggalkannya di Aceh Selatan hanya Rp. 200,-/ Kg atau Rp. 200.000,-/ Ton.
“Jika Pemkab Aceh Selatan belum mampu menghadirkan investor untuk membangun pabrik. Maka mohon difasilitasi dengan kebijakan supaya masyarakat bisa jua limbah ke para agen sehingga dapat membatu masyarakat penambang tradisional menjelang hari lebaran mendatang,” pungkasnya. (IS/Red).