By Dr. Khairuddin,
S.Ag., MA
KBBAceh.News | Tapakuan – “Dulu aku sering memaksa-Mu, ya Rabb. Kini aku hanya berkata, ‘Engkau lebih tahu.’”
Kita tumbuh dalam harapan bahwa semua keinginan bisa dikabulkan jika kita cukup berdoa.
Bahwa selama kita meminta dengan yakin, semesta akan berpihak. Tapi pada suatu titik, kita mulai menyadari: tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik.
Ada keinginan yang jika dikabulkan, justru menjauhkan kita dari Allah. Ada impian yang jika diwujudkan, bisa melukai orang lain. Dan ada doa yang kita paksa menjadi nyata, padahal Allah tahu kita belum siap menerimanya.
Lalu perlahan, kita pun berubah. Dari memaksa, menjadi menyerah. Dari menuntut, menjadi tunduk. Dari yakin bahwa “ini yang terbaik”, menjadi yakin bahwa “Allah lebih tahu apa yang terbaik.”
Doa kita berubah. Tak lagi penuh ambisi. Tak lagi penuh peta arah yang kita rancang sendiri. Kini, doa kita sederhana:
“Ya Allah, jika ini baik menurut-Mu, dekatkan. Jika tidak, jauhkan. Dan tenangkan aku dalam keputusan-Mu.”
Doa seperti ini adalah bukti bahwa kita mulai matang dalam iman. Kita tidak lagi datang kepada Allah sebagai pemaksa yang mengatur jalan hidup, tapi sebagai hamba yang rela dibimbing, meski jalannya tak selalu mudah.
Dan percaya—bahwa keputusan Allah tidak pernah keliru—adalah bentuk cinta paling jujur yang bisa diberikan seorang hamba kepada Tuhannya.
Rasulullah SAW mengajarkan satu doa istikharah yang sangat dalam maknanya:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ
“Ya Allah, aku memohon pilihan yang terbaik kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku memohon kemampuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu…” (HR. Al-Bukhari)
Bahkan Nabi yang paling dekat dengan Allah pun tidak mengandalkan kehendak sendiri. Ia menyerahkan pilihan kepada Allah—karena tahu, ilmu dan kasih sayang-Nya tak bisa ditandingi oleh siapa pun.
Kita pernah kecewa, bukan karena tak diberi, tapi karena diberi yang tidak kita minta. Kita pernah gelisah, bukan karena Allah diam, tapi karena kita tak mengerti jawaban-Nya.
Namun saat iman tumbuh, kita akan mulai berkata: “Aku tak lagi tahu apa yang terbaik untukku, ya Allah. Tapi Engkau tahu. Maka tuntunlah aku, meski langkahku belum paham ke mana.”
Dan dengan ucapan itu, kita tidak sedang kalah—tapi sedang belajar menang. Menang atas ego. Menang atas rencana yang terlalu manusiawi. Menang karena akhirnya percaya sepenuh hati.
Sahabatku..
Tuhan tidak butuh kita paham. Tuhan hanya ingin kita percaya.
Ketika kita tak lagi tahu apa yang terbaik, saat itulah kita memberi ruang bagi Allah untuk bekerja penuh. Dan Allah, tak pernah gagal dalam membimbing hati yang berserah.
Maka, jika hari ini kamu sedang bingung harus berdoa apa, cukup katakan: “Ya Allah, ambillah kendali. Aku pasrah. Aku percaya. Engkau lebih tahu.”
Dan percayalah… langit akan terbuka bagi hati yang merendah seperti itu.