By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Tulisan ini diawali oleh pertanyaan dari seorang peserta kegiatan Keluarga Harmoni yang dengan jujur melontarkan kegelisahannya: “Apakah lembaga pernikahan hari ini sudah mengkhawatirkan?”
Pertanyaan itu lahir bukan dari prasangka, tetapi dari realita: meningkatnya angka perceraian, banyaknya keluarga yang retak di tengah jalan, dan munculnya ungkapan yang menggugah sekaligus menyakitkan:
โAda uang, ada Abang.โ
Dulu, orang menikah dengan hati. Sekarang, ada yang menikah dengan hitung-hitungan. Dulu, kata orang tua, “hidup susah senang dijalani bersama.” Kini, yang terdengar justru, “kalau tak mampu, silakan minggir.” Maka lahirlah ungkapan yang menggigit: โAda uang, ada Abang.โ Tanpa uang, Abang dianggap tak lagi pantas.
Fenomena ini bukan sekadar lelucon basa-basi. Ia cermin rapuhnya ikatan yang seharusnya suci dan kokoh. Di tengah gempuran gaya hidup instan dan tuntutan sosial yang makin menggila, rumah tangga pun kian ringkih. Perceraian jadi jalan pintas, bukan pilihan terakhir. Yang muda ragu menikah, yang tua mulai bertanya: “Masih adakah arti sebuah pernikahan?”
Kita lupa bahwa cinta bukan tentang saldo rekening, tapi tentang saling menguatkan di tengah kekurangan. Bahwa pernikahan bukan kontrak dagang, tapi akad suci di hadapan Tuhan.
Bayangkan dua orang mendayung perahu kecil melawan arus. Bila hanya satu yang mendayung, perahu akan berputar-putar di tempat. Tapi jika keduanya sepakat, seirama, sejiwa, maka seberat apa pun arus, mereka akan melaju. Terkadang, perahu itu bocor. Tapi bukan berarti mereka harus melompat dan meninggalkan kapal. Mereka menambalnya bersama, meski basah dan luka.
Bukan uang yang menyelamatkan rumah tangga, tapi komitmen. Bukan harta yang membuat cinta langgeng, tapi kesediaan untuk saling memaafkan dan terus belajar mencintai meski tak sempurna.
Wahai yang sedang bingung dan ragu, jangan buru-buru memutuskan untuk menyerah pada cinta. Jangan biarkan dunia mendikte bahwa kebahagiaan hanya bisa dibeli. Kembalilah pada niat yang tulus, pada janji awal di pelaminan dulu. Tanyakan lagi pada hatimu: masih adakah cinta yang bisa diselamatkan?
Dan bagi yang belum menikah, jangan takut. Bukan pernikahannya yang menakutkan, tapi ketidaksiapan dan ekspektasi palsu yang menghancurkan. Persiapkan hatimu, bukan sekadar dompetmu. Karena rumah tangga adalah perjalanan, bukan tujuan. Dan setiap perjalanan selalu punya tantanganโtapi juga keindahan, bila dijalani bersama. (Red)