๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ต ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐—ป

๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—ฝ๐—ถ๐—ต๐—ฎ๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ ๐—ง๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ต ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ด๐˜‚๐—ฎ๐—ป
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
By. Dr. Khairuddin, S. Ag., MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Setiap masa selalu memiliki tarik-menarik antara dua kutub: antara kebaikan dan kejelekan, antara yang benar dan yang salah. Namun di zaman ini, batas-batas itu seringkali kabur. Apa yang dulu dianggap salah, kini bisa dimaklumi dengan mudah. Apa yang dulu jelas kebaikannya, kini dianggap kuno dan tak relevan. Ruang antara hitam dan putih semakin dipenuhi oleh warna abu-abuโ€”wilayah samar yang tak mudah didefinisikan.
Zaman abu-abu ini menciptakan sebuah tantangan moral. Kita tidak lagi hanya berhadapan dengan pilihan antara baik dan buruk, tapi dengan sesuatu yang tampak baik, namun disusupi kepentingan. Dengan sesuatu yang terlihat netral, namun mengandung bias kekuasaan. Maka di tengah kebingungan ini, koreksi tidak cukup hanya dengan hukum atau logika formal. Ia harus dikembalikan pada nilai dan moral.
Zaman modern adalah zaman informasi. Segalanya bisa dicari, dibuktikan, bahkan dibantah dengan data. Tapi ada yang tak bisa disediakan oleh mesin pencari: hikmah dan kebijaksanaan. Logika bisa menyusun argumen yang meyakinkan, tapi tidak selalu benar secara moral. Contohnya? Seorang pemimpin yang menindas bawahannya demi efisiensi kerja bisa saja dianggap benar dalam kalkulasi manajemen, tapi salah secara kemanusiaan.
Maka koreksi atas tindakan seperti itu tak bisa hanya dari laporan atau grafik, tapi harus ditimbang dengan rasa nilai: apakah ini adil? Apakah ini manusiawi? Apakah ini membawa kebaikan bersama atau hanya menguntungkan segelintir orang?
Banyak orang memilih diam di tengah situasi abu-abu. Mereka tidak ingin berpihak, tidak ingin dianggap menghakimi, tidak ingin mencampuri urusan yang tampaknya tidak merugikan langsung. Namun ketidakberpihakan terhadap nilai kebenaran bisa menjadi bentuk pembiaran terhadap kezaliman.
Nelson Mandela pernah berkata, โ€œYang membuat dunia ini rusak bukan hanya karena tindakan orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang-orang baik.โ€ Maka koreksi moral bukan hanya tugas pemimpin atau orang besar, tapi juga suara nurani dari setiap pribadi yang punya hati.
Jika Hukum bisa dipelintir. Aturan bisa diubah. Opini publik bisa digiring oleh narasi yang kuat. Tapi moral sejati tetap berdiri teguh di tengah guncangan zaman. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, kasih sayangโ€”adalah penunjuk arah ketika semua penanda lain menghilang.
Dalam filsafat India, Mahatma Gandhi menyebut โ€œTujuh dosa sosialโ€โ€”dan salah satunya adalah politik tanpa prinsip dan ilmu tanpa kemanusiaan. Jika pemimpin berpolitik tanpa nilai, atau birokrat bekerja tanpa empati, maka sistem akan kering, otoriter, dan menindas atas nama prosedur.
Lihatlah realita yang sering kita jumpai: seseorang diberikan jabatan, namun selama memimpin justru menciptakan kebingungan, membuat keputusan yang kontradiktif, atau mengabaikan etika profesi. Ketika ia diganti oleh pimpinan atasannya, ia berteriak soal ketidakadilan. Tapi masyarakat tahu, penggantian itu adalah bentuk koreksi yang lama tertunda.
Apakah kita harus kasihan? Tidak. Yang harus dikedepankan adalah kejujuran untuk melihat dengan jernih: apakah pemimpin itu telah menjalankan nilai-nilai kebaikan atau justru menjadikannya sebagai tameng retoris?
Di tengah derasnya informasi, kecanggihan teknologi, dan abu-abunya zaman, mari kembali ke nilai dasar: kebenaran, kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu tidak usang, justru semakin relevan ketika semuanya semakin kabur.
Mari kita koreksi, bukan karena benci. Tapi karena kita ingin dunia ini tetap punya arah. Dan arah itu hanya bisa ditemukan jika kita kembali menggunakan moral sebagai kompas. (Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar