By Dr. Khairuddin MA
Tapaktuan, KBBAceh.news – Pernahkah kita merasa lelah setelah memberi terlalu banyak? Pernahkah kita merasa diabaikan setelah begitu peduli?
Mungkin kita pernah menjadi orang yang selalu ada, mendengar tanpa mengeluh, membantu tanpa diminta, dan mencintai tanpa syarat. Mungkin juga kita pernah mengorbankan waktu, tenaga, dan perasaan demi orang-orang yang kita pikir akan melakukan hal yang sama untuk kita. Tapi ternyata, tidak semua hati bisa menghargai ketulusan.
Perlu diketahui bahwa terlalu banyak peduli terhadap sesuatu bisa menimbulkan luka, terutama ketika kebaikan yang kita berikan tidak dihargai oleh orang lain. Meskipun demikian, hal ini bukanlah alasan untuk berhenti berbuat baik. Sebaliknya, ini justru menjadi alasan yang cukup untuk kita agar lebih berhati-hati dalam menjalankan kebaikan. Dan ketika kita memilih untuk menjaga jarak atau bersikap menjauh, itu bukan selalu berarti kita membenci seseorang. Kadang, kita melakukannya untuk melindungi diri sendiri dari kekecewaan atau luka yang lebih dalam di masa depan.
Dan anehnya, ketika kita mulai menjaga hati, kemudian disebut sombong. Ketika mulai menjaga jarak, dianggap berubah. Ketika berhenti peduli pada mereka yang tidak pernah peduli, kita malah dipandang jahat.
Yang benar adalah, hanya berhenti menyakiti diri sendiri atau hanya memilih untuk memberikan kebaikan pada mereka yang tahu cara menghargai, atau boleh saja ingin mencintai diri sendiri, sebelum kehabisan cinta untuk diberikan.
Jadi, jika suatu saat kita merasa seperti iniโlelah karena tak dihargai, kecewa karena kebaikan dianggap biasaโingatlah, kita tidak sendiri, Kita berhak menjaga hati, Kita berhak untuk tidak selalu ada. Karena kadang, diam dan menjauh adalah cara terbaik untuk menyembuhkan diri. (Red)