๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐—ฎ๐—ธ ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฐ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ

๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ง๐—ฎ๐—ธ ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ด๐—ถ ๐——๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฐ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

KBBAceh.News | Tapaktuan, – Di zaman ini, kebenaran tidak lagi berdiri kokoh seperti dulu. Ia dipertanyakan, dicurigai, bahkan dianggap bagian dari kepalsuan. Banyak orang tak lagi yakin apakah kebenaran itu benar-benar ada, atau sekadar versi lain dari kepentingan. Ini bukan hanya krisis logika, tapi krisis kepercayaan yang menusuk nurani.

Ironisnya, kebohongan justru lebih mudah dipercaya. Dusta yang dibalut retorika dan kuasa sering tampak lebih meyakinkan daripada kebenaran yang sederhana. Mereka yang berkata jujur malah dianggap pencitraan. Yang tulus dicap sedang memainkan peran. Dunia seolah kehilangan arah moral.

Kali ini Kebenaran seperti cermin yang retak. Ia masih memantulkan bayangan, tapi sudah tak utuh. Orang yang melihatnya tak yakin apakah yang mereka lihat itu nyata, atau hanya ilusi dari pantulan yang patah. Maka mereka pun mulai meragukan segalanya termasuk cahaya yang sejatinya benar.

Meski kepercayaan pada kebenaran mulai luntur, bukan berarti ia harus hilang. Masih ada jiwa-jiwa yang menjaga nyalanya. Mungkin tak terdengar, tak tampak besar, tapi merekalah penjaga harapan. Karena selama ada satu orang yang masih percaya pada kebenaran, dunia belum sepenuhnya gelap.

Ingatlah saudaraku…

“Kebenaran tak butuh sorak sorai untuk tetap menjadi benar. Ia hanya butuh satu hati yang setia, satu jiwa yang rela berdiri sendirian untuk tetap membenarkannya.โ€ (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar