๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—บ, ๐—ง๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ถ๐—ฎ๐—ป

๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐——๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—บ, ๐—ง๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—ฑ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ๐—ถ๐—ฎ๐—ป
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Kadang kita berpikir bahwa menyimpan dendam adalah bentuk pembelaan diri. Seolah-olah, dengan menaruh luka dalam hati, kita sedang memperjuangkan keadilan. Tapi sesungguhnya, dendam bukanlah perjuangan. Ia adalah racun yang kita simpan dalam gelas harapan. Kita berharap orang yang menyakiti kita akan menderita, tapi justru kita yang perlahan-lahan habis dari dalam.

Dendam ibarat bara api. Kita genggam erat dengan tangan sendiri, berharap bara itu bisa dilemparkan ke wajah orang lain. Tapi sebelum dilempar, panasnya sudah lebih dulu membakar hati kita, menghanguskan ketenangan, menyiksa pikiran, dan menghilangkan senyum dari wajah kita sendiri.

Pernahkah kita sadar, bahwa orang yang menyakiti kita mungkin telah melanjutkan hidupnya? Ia tertawa, makan dengan nikmat, tidur dengan nyenyak. Sementara kita masih mengurung diri dalam kamar gelap bernama dendam, terus mencari cara bagaimana ia bisa jatuh, bagaimana ia bisa malu, bagaimana ia bisa merasakan sakit yang sama. Kita berharap keadilan, tapi yang kita hasilkan justru kegelisahan.

Manusia diciptakan untuk hidup dengan hati yang lapang. Namun, dendam itu seperti pagar besi yang kita bangun sendiri di sekeliling jiwa. Semakin tinggi dendam kita, semakin sempit ruang batin kita. Kita tidak bisa lagi melihat cahaya, karena kita sibuk menutup semua celah dengan kemarahan.

Bayangkan jika hidup ini seperti taman. Jika kita memilih menanam dendam, maka kita sedang menanam tanaman berduri. Ia tumbuh, merambat, dan menyakitkan siapa pun yang mendekatโ€”termasuk diri sendiri. Tapi jika kita memilih memaafkan, meski pahit di awal, kita sedang menanam bunga. Ia tidak langsung mekar, tapi akan tumbuh, berbunga, dan mengharumkan hati kita sendiri.

Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi memaafkan adalah melepaskan diri dari beban yang terus menekan. Kita layak untuk bahagia. Kita berhak atas ketenangan. Maka jangan biarkan orang yang telah menyakiti kita terus berkuasa atas hidup kita lewat dendam yang kita pelihara.

Ketenangan tidak pernah tumbuh dari niat membalas, tapi dari keberanian untuk melepaskan. Jika hati kita ingin damai, maka lepaskanlah bara itu. Jangan genggam terlalu lama. Karena dendam bukan bentuk kekuatan, melainkan tanda bahwa kita sedang kalah oleh luka kita sendiri.

Mari hidup dengan hati yang terbuka. Karena ketika hati lapang, hidup jadi lebih ringan. Dan ketika kita bisa memaafkan, kita sedang memberi hadiah terindahโ€”bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar