๐—œ๐—ธ๐—ต๐—น๐—ฎ๐˜€: ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜๐—บ๐˜‚ ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ž๐˜‚๐—ฎ๐˜

๐—œ๐—ธ๐—ต๐—น๐—ฎ๐˜€: ๐—ž๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐—ฝ๐—ฎ๐˜€๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐˜‚๐—ฎ๐˜๐—บ๐˜‚ ๐—Ÿ๐—ฒ๐—ฏ๐—ถ๐—ต ๐—ž๐˜‚๐—ฎ๐˜
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin MA

Kadang, yang paling sulit dalam hidup bukanlah berjuang, tapi melepaskan. Melepaskan seseorang yang kita cintai. Melepaskan harapan yang tidak kesampaian. Melepaskan masa lalu yang menyakitkan. Atau melepaskan sesuatu yang sebenarnya kita tahu, itu bukan yang terbaik untuk kita.

Namun justru di sanalah keikhlasan diuji, dan kekuatan dibentuk.

Ikhlas bukan berarti tidak sedih. Bukan juga pura-pura bahagia. Ikhlas adalah menerima kenyataan dengan hati yang ridha, sambil tetap percaya bahwa Allah punya rencana yang lebih baik. Seperti seseorang yang melepaskan kapal layarnya ke laut, dia tahu kapal itu tidak lagi di tangannya, tapi dia percaya laut akan membawanya ke tujuan yang baru.

Melepaskan bukan berarti kalah. Tapi kadang, itulah satu-satunya jalan untuk tenang. Karena kita tidak bisa terus menggenggam sesuatu yang menyakitkan. Kita tidak bisa berjalan ke depan sambil menoleh ke belakang. Keikhlasan adalah ketika kita mampu berkata, โ€œYa Allah, aku pasrah. Aku percaya, Engkau tidak akan salah menuliskan takdirku.โ€

Ada yang melepaskan orang yang tidak mencintainya kembali. Ada yang melepaskan pekerjaan impian karena takdir berkata lain. Ada yang melepaskan cita-cita lama karena jalan hidup berubah. Tapi dari situ, mereka tumbuh. Mereka lebih kuat. Lebih dewasa. Dan lebih dekat kepada Allah.

Ingatlah, ikhlas bukan membuang, tapi menyerahkan kepada Yang Maha Mengatur. Dan saat kamu benar-benar ikhlas, kamu akan merasakan lapang yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Lapang yang membuatmu tidak lagi bergantung pada apa yang pergi, karena kamu tahu: Allah masih bersamamu, dan Dia tidak pernah meninggalkanmu.

Untuk mengakhiri uraian ini dengan lebih bermakna dan memperkuat ketulusan hati, marilah kita renungkan firman Allah dalam Al-Qur’an yaitu: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.โ€ (QS. Al-Bayyinah: 5) (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar