๐—ฃ๐˜‚๐˜€๐—ต-๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ต P๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—”๐˜†๐—ฎ๐—ต: ๐—ง๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—น๐—ฎ

๐—ฃ๐˜‚๐˜€๐—ต-๐—ฝ๐˜‚๐˜€๐—ต P๐—ต๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ผ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—”๐˜†๐—ฎ๐—ต: ๐—ง๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—น๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฃ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—น๐—ฎ
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

Tulisan ini dimulai dengan menjelaskan istilah “Push-push phenomenon”โ€”biasanya digunakan dalam dunia distribusi dan pemasaran untuk menggambarkan dorongan ganda dari produsen ke distributor dan dari distributor ke konsumen. Namun, dalam pembahasan ini, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan situasi seorang ayah yang menghadapi tekanan ganda: sebagai pencari nafkah sekaligus menjalankan peran keayahannya dalam keluarga.

Di zaman yang penuh target, deadline, dan tekanan sosial, peran seorang ayah tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah, tapi juga penjaga stabilitas keluarga, penguat moral, dan pengarah spiritual. Tidak sedikit ayah yang merasa hidupnya seperti terjepit di antara dua tembok, kantor yang tak mengenal ampun, dan rumah yang menanti dengan harapan.

Namun justru di sanalah letak kemuliaannya.

Tekanan bukan tanda bahwa kita gagal. Tekanan adalah panggilan untuk naik kelas.

Setiap beban yang dipikul ayah, setiap tetes keringat, setiap lelah yang tak terlihat, adalah amal yang bernilai tinggi di sisi Allah. Jika semua dijalani dengan kesadaran dan cinta, maka pekerjaan tak hanya menjadi rutinitas, tapi ibadah.

Jika suatu hari engkau merasa tak ada yang memahami, Jika engkau pulang dengan tubuh penat dan wajah tak lagi segar,

Ingatlah ini:

Ada Allah yang selalu tahu isi dadamu.

Ada istri yang menunggumu dengan harapan.

Ada anak yang menyebutmu pahlawan meski kau tak pernah tercukupi.

Dan yang paling penting:

Ada dirimu sendiri yang tak boleh kau abaikan.

Rawat jiwamu, peluk hatimu, dan hargai perjuanganmu. Karena untuk menjadi ayah yang tangguh, bukan berarti tak boleh menangis. Tapi tetap berdiri walau berkali-kali ingin rebah.

Esok akan datang lagi tekanan, Pekerjaan tak akan habis, tuntutan akan terus berganti.

Tapi selama niatmu tetap lurus, cintamu tetap tumbuh, dan jiwamu tetap kau jaga,

Kau sedang mencatat amal dalam diam.

Dan membangun peradaban mulai dari ruang tamu kecil di rumahmu sendiri.

Teruslah berjalan, Ayah. Karena langkah kecilmu di dunia, bisa jadi bekal besar menuju surga.

(Tulisan ini ditulis hasil sebuah renungan dari acara Orientasi Pengasuhan 1000HPK Bagi Pelaksana Kegiatan Pembinaan Keluarga Dengan Anak Usia Dini, di BKKBN Prov. Aceh)

(Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar