๐— ๐—ฒ ๐—ง๐—ถ๐—บ๐—ฒ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ถ

๐— ๐—ฒ ๐—ง๐—ถ๐—บ๐—ฒ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฅ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ถ
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By. Dr. Khairuddin MA

Sebelum membahas inti tulisan ini, perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu makna dari istilah ‘๐™ˆ๐™š ๐™๐™ž๐™ข๐™š’, yaitu sebuah konsep yang dikenal dalam psikologi, dan dalam konteks spiritual sering pula dibahas dalam tasawuf serta filsafat Islam sebagai waktu khusus yang diambil seseorang untuk menyendiri, merenung, dan merawat kesehatan jiwa dengan mendekatkan diri kepada Tuhan serta memahami diri secara lebih dalam.

Pernahkah kita rindu salat yang tenang? Doa yang dalam? Air mata yang jatuh bukan karena beban, tapi karena rindu?

Kesibukan sering membuat ibadah menjadi rutinitas. Kita tergesa, padahal yang kita butuhkan bukan gerakan, tapi perjumpaan. Di sinilah ๐™ˆ๐™š ๐™๐™ž๐™ข๐™š menjadi pentingโ€”bukan sekadar waktu istirahat, tapi saat untuk kembali menjadi hamba.

Dalam keheningan, kita bisa membaca Al-Qurโ€™an perlahan. Tak perlu buru-buru khatam, cukup satu ayat yang benar-benar menggetarkan hati. Zikir tak perlu dihitung, asal benar-benar dihayati. Dan doaโ€ฆ cukup satu kalimat dari hati yang jujur: โ€œYa Allah, aku rindu dekat dengan-Mu.โ€

๐™ˆ๐™š ๐™๐™ž๐™ข๐™š yang sejati bukan pelarian dari dunia, tapi pertemuan paling pribadi dengan Tuhan. Di sanalah ruh kita istirahat, hati kita dipeluk, dan iman kita disegarkan kembali.

Semoga Allah berikan waktu dan kesempatan kepada kita dengan keberkahan

Bagikan:

Tinggalkan Komentar