By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
KBBAceh.News | Tapaktuan – Menuntut ilmu adalah awal dari ibadah yang panjang. Tapi bagi seorang hamba yang jujur, menuntut ilmu bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan melatih hati untuk semakin tunduk kepada Allah. Karena sejatinya, ilmu yang benar akan menumbuhkan rasa takut, bukan rasa sombong. Ia menyadarkan bahwa yang paling tahu, tetaplah Allah. Dan yang paling mulia, hanyalah yang paling bertaqwa.
Taqwa bukan hanya tentang menjauhi dosa, tapi juga tentang menjaga niat dalam setiap langkah. Ketika seseorang berangkat dari rumahnya menuju tempat belajar dengan niat yang lurus, maka langkah-langkahnya dicatat sebagai amal. Bahkan keletihannya menjadi bagian dari ibadah.
> وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ
“Bertaqwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarkan kamu.” (QS. Al-Baqarah: 282)
Ayat ini menjadi bukti bahwa ilmu tak sekadar dihafal, tetapi dianugerahkan. Dan anugerah itu turun kepada hati yang dipenuhi taqwa. Maka tak heran jika banyak orang cerdas, tapi tak tercerahkan. Banyak yang hafal, tapi tak memahami. Karena ilmu yang diberkahi adalah milik mereka yang hatinya bersih.
Seorang pencari ilmu yang bertaqwa tidak sibuk mencari pujian. Ia tahu, gelar tidak membuatnya lebih dekat dengan surga. Tapi ilmu yang membuatnya semakin rendah hati dan taat, itulah yang akan membawanya pada derajat tinggi di sisi Allah.
> يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Menuntut ilmu yang dilandasi taqwa akan menjadikan seseorang bukan hanya cerdas secara akal, tapi juga bersih secara batin. Ia tidak hanya tahu, tapi juga sadar. Ia tidak hanya fasih berbicara, tapi juga mampu menahan diri. Dan itulah buah dari ilmu yang benar: menumbuhkan rasa takut kepada Allah, bukan memperbesar ego di hadapan manusia.
Bayangkan ilmu seperti hujan, dan hati kita adalah tanah. Hujan yang deras tak akan bermanfaat jika tanahnya keras. Tapi setetes demi setetes, akan menumbuhkan kehidupan di tanah yang gembur. Demikian pula ilmu, hanya akan memberi manfaat pada hati yang disirami taqwa.
“Ilmu tanpa taqwa ibarat api tanpa kendali—membakar segalanya, termasuk pemiliknya. Tapi ilmu yang tumbuh dari taqwa, ibarat cahaya fajar—menuntun tanpa menyilaukan.” (Red)