KBBAceh.News | Tapaktuan – Tokoh masyarakat Aceh Selatan yang juga merupakan Ketua PeTA Aceh Selatan T.Sukandi dalam sebuah tulisannya mengungkapkan bahwa :
Eskalasi Demo Mahasiswa & Buruh akan meningkat (Sept–Okt 2025)
Korban ojol jadi simbol aksi “Solidaritas Nasional” pecah di 15–20 kota besar
Viral video kekerasan aparat baru korban tambahan (mahasiswa/pekerja)
Buruh (KSPI, KSBSI, FSPMI) bergabung muncul “Mogok Nasional” 3–5 hari
Ekonomi lumpuh, kawasan industri Bekasi Karawang, Cikarang berhenti, tol blokir, pelabuhan terganggu, Narasi berubah dari tolak upah murah Turunkan Presiden
Legitimasi Politik Runtuh
DPR terbagi faksi NasDem, Demokrat, bahkan sebagian Golkar mulai lirik oposisi, usulkan Hak Angket soal pelanggaran HAM & ekonomi
Media internasional (BBC, Reuters, Al Jazeera) sorot “Indonesia menuju Reformasi 2.0”
Investor asing tarik dana, rupiah melemah tajam (Rp 18.000–19.000/USD) serta Elit militer mulai khawatir tidak mau diseret jadi kambing hitam
Momentum Krisis (Okt–Nov 2025)
Demo di Jakarta tembus ratusan ribu massa, mengepung DPR/MPR
Bentrok besar korban jiwa bertambah (mahasiswa/masyarakat sipil)
Kapolri Listyo & Panglima TNI ditekan memilih : ikut bertahan atau jaga jarak,
Jokowi secara diam-diam ambil jarak politik dari Prabowo, memberi sinyali “solusi transisi damai”
Kejatuhan Presiden
Ada 3 jalur jatuhnya Presiden :
Jalur A Tekanan DPR (Probabilitas 35%)
DPR berhasil gunakan hak angket dilanjutkan ke MPR Presiden diminta mundur atau dimakzulkan dengan alasan pelanggaran HAM & ketidakmampuan jaga stabilitas
Prabowo dipaksa lengser dengan skema “Soft landing”
Jalur B Mundur Sukarela (Probabilitas 25%)
Setelah korban bertambah & Jokowi memberi tekanan moral, Prabowo mundur demi elak pertumpahan darah
Pernyataan resmi : “Demi persatuan bangsa, saya serahkan mandat pada Wapres”
Jalur C Tekanan Militer/Security (Probabilitas 10%)
Jika situasi chaos, TNI/Polri menolak perintah represif mendesak Presiden mundur
Risiko ini lebih kecil, tapi efeknya mirip 1998
Siapa Pengganti?
Gibran Rakabuming Raka otomatis naik sebagai Presiden (Pasal 8 UUD 1945)
Legitimasi awalnya lemah, tapi Jokowi masuk sebagai kingmaker berperan sebagai penjamin stabilitas transisi
Kabinet kemungkinan reshuffle besar, faksi pro-Jokowi masuk lebih dominan
Prabowo diposisikan sebagai “purnawirawan negara” pensiun politik dipercepat
Probabilitas Realistis
Prabowo bertahan sampai Des 2025 : 60%
Prabowo jatuh (worst-case) : 40%
Jalur DPR (angket pemakzulan) : 35%
Jalur mundur sukarela : 25%
Jalur tekanan militer/security : 10%
Faktor Penentu Apakah Jatuh atau Bertahan
Jumlah & dampak korban jiwa tambahan semakin banyak korban sipil, semakin cepat runtuh legitimasi
Sikap Jokowi apakah tetap pasang badan untuk Prabowo, atau justru alih posisi untuk jaga stabilitas
Soliditas DPR & koalisi besar jika pecah, MPR bisa jadi arena pemakzulan
Respons aparat keamanan represif = mempercepat krisis, de-escalation = meredam
Jika pemerintah gagal mengelola krisis demo September–Oktober, Prabowo bisa jatuh sebelum Desember 2025. Skema paling mungkin DPR gunakan hak angket negosiasi politik, Prabowo mundur dengan alasan menjaga persatuan bangsa Gibran naik jadi Presiden, dengan Jokowi kembali jadi tokoh penjamin stabilitas
Kita harus melihat dari helicopter view :
Gerakan ini pasti banyak motifnya, ada yang memang murni untuk rakyat seperti dari kalangan mahasiswa dan komunitas, tapi ada penumpang gelap, Pendananya konon duduk manis di Singapore dan dibackup dari Washington atau New York
Tujuan mereka pecah belah dulu baru kuasai, selogan klasik tapi masih ampuh
Intinya Presiden Prabowo mesti jeli mendengar masukan dari semua pembantunya, jangan salah dengar, bisa runyam, kalkulasi semua kemungkinan buruk yang akan terjadi, Rem semua dana infrastruktur yang kurang efektif, temui dan dengar aspirasi masyarakat yang berkembang, batalkan semua kebijakan pajak yang sangat menyengsarakan rakyat.
(Penulis, T.Sukandi PeTA)