Ilmu yang Menjadi Cahaya

Ilmu yang Menjadi Cahaya
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Tapaktuan – Hidup ini sesungguhnya adalah lembaran catatan amal. Setiap amal baik yang bersumber dari ilmu, sekecil apa pun, akan menjadi saksi di hadapan Allah. Maka jangan pernah meremehkan satu amal dari ilmu yang kita tahu—entah itu menulis, berkata jujur, atau menepati janji. Sebab dari situlah Allah akan membukakan pintu hikmah yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Maka Allah SWT memerintahkan lewat firmannya dalam Surat Al-Baqarah ayat 282: وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ (bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkan kepadamu (ilmu).)
Para ulama salaf menuturkan sebuah ungkapan penuh hikmah:
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللَّهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Barang siapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.”
Coba renungkan seorang pemuda yang tahu kewajiban shalat tepat waktu. Awalnya ia hanya tahu dari bacaan atau nasihat guru. Namun ketika ia benar-benar menjaga waktunya, ia mulai merasakan sesuatu yang baru—ketenangan, kedisiplinan, bahkan rasa dekat dengan Allah. Ia baru memahami bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi pertemuan dengan Sang Pencipta. Amal sederhana itu melahirkan ilmu baru yang tak pernah ia temukan di buku.
Ilmu tanpa amal ibarat benih yang tidak pernah ditanam. Ia mungkin tetap ada, tapi tidak pernah berbuah. Namun ilmu yang diamalkan bagaikan benih yang disiram: ia tumbuh, berdaun, berbunga, lalu berbuah. Setiap buah yang muncul, itulah ilmu baru yang Allah wariskan.
Karena itu, jangan remehkan amal kecil. Setiap langkah dalam kebaikan adalah undangan kepada Allah untuk menambah pemahaman. Amal yang dilakukan dengan ikhlas akan membuka cahaya berikutnya.
Sering kali kita menunggu ilmu yang tinggi, padahal kita belum menunaikan ilmu yang sederhana. Kita ingin memahami rahasia takdir, padahal belum menjaga lidah dari kebohongan. Kita ingin mendalami makna ikhlas, padahal belum menunaikan shalat dengan khusyuk.
Ilmu sejati bukanlah tumpukan teori di kepala, melainkan cahaya yang membimbing langkah. Dan cahaya itu turun setahap demi setahap, seiring kita mengamalkan apa yang telah kita ketahui.
Sahabatku…
Mari kita tanyakan pada diri sendiri: berapa banyak ilmu yang sudah kita dengar, tetapi masih tertinggal di telinga? Berapa banyak yang sudah kita pahami, tetapi belum kita wujudkan dalam amal?
(By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar