“Cuma Sejuta, kok”: Bahaya Baru di Era Redenominasi

“Cuma Sejuta, kok”: Bahaya Baru di Era Redenominasi
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

KBBAceh.News | Jakarta – Pemerintah sedang bersiap meluncurkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Harga Rupiah (Redenominasi), yang ditargetkan rampung pada 2027.

Langkah ini tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2025-2029 dan menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Tujuannya mulia: menyederhanakan angka rupiah agar lebih efisien dan berwibawa.

Bayangkan, tak ada lagi harga nasi goreng Rp25.000; cukup Rp25 saja. Semua terasa lebih ringan, praktis, dan modern.

Namun di negeri ini, setiap kebijakan besar selalu punya sisi gelap yang harus diwaspadai, yaitu akal manusia.

Dan di sinilah letak bahaya baru yang tak bisa disepelekan; bukan di angka, tapi di persepsi.

Ketika Nol Hilang, Logika Pun Bisa Ikut Hilang

Redenominasi memang sekadar menghapus nol, bukan mengurangi nilai.

Tapi jangan lupa: angka bukan hanya alat hitung, tapi alat pikir.

Ketika angka berubah, cara orang memahami nilai juga ikut berubah.

Kita mudah terkecoh oleh nominal kecil, padahal nilainya tetap sama besar.

Bayangkan suatu hari nanti muncul berita:

“Seorang pejabat tertangkap karena korupsi sejuta rupiah.”

Kalimat itu terdengar remeh, seolah hanya mencuri uang makan siang.

Padahal “sejuta rupiah baru” itu bisa berarti satu miliar rupiah lama.

Tapi karena nolnya sudah dipangkas, rasa salahnya pun ikut menciut.

Redenominasi Nilai, Bukan Redenominasi Dosa

Inilah sisi psikologis yang sering dilupakan.

Kita bukan sekadar sedang mengatur ulang sistem keuangan, tapi juga sedang menata ulang persepsi sosial terhadap nilai.

Jika literasi publik tak disiapkan, redenominasi bisa berubah dari kebijakan moneter menjadi alat pemutihan moral.

Koruptor tak lagi perlu repot mencari pembenaran panjang.

Cukup bilang, “Uangnya cuma sejuta, kok”, dan publik yang tidak paham perbandingan lama-baru bisa mengangguk, menganggapnya kecil, dan juga lupa bahwa satu miliar bukan jumlah yang bisa disepelekan.

Lucu di Awal, Bisa Tragis di Akhir

Memang lucu kalau dibayangkan sekarang.

Tapi di negara dengan tingkat literasi finansial yang belum merata, humor seperti ini bisa berubah jadi tragedi ekonomi dan sosial.

Menyederhanakan Angka, Jangan Menyederhanakan Nurani

Redenominasi adalah langkah penting untuk efisiensi ekonomi, tapi juga ujian bagi integritas bangsa.

Kita boleh memangkas tiga nol dari rupiah, tapi jangan sampai memangkas tiga hal yang jauh lebih penting: logika, kejujuran, dan rasa malu.

Uang boleh berubah tampilan, tapi nilai moral harus tetap utuh.

Kalau tidak, kita akan punya mata uang baru yang indah, tapi dengan harga diri lama yang sudah murah. (Sumber, Kompasiana)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar