By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAceh.News | Banda Aceh – Pasca banjir selalu menghadirkan dua jenis pemandangan. Yang pertama mudah ditangkap mata: lumpur yang menempel di dinding rumah, jalan yang rusak, barang-barang yang hanyut, serta langkah kaki manusia yang harus berjalan berpuluh-puluh kilometer demi mendapatkan bahan pokok. Yang kedua jauh lebih halus namun menentukan arah peradaban: bagaimana manusia memaknai kebaikan ketika semua berada dalam keadaan membutuhkan.
Saya menyaksikan sendiri orang-orang berjalan jauh hanya untuk memenuhi kebutuhan paling dasar bagi keluarganya. Bukan karena bantuan tidak ada, tetapi karena bantuan tidak selalu datang tepat waktu dan tepat tempat. Dalam situasi seperti itu, martabat manusia diuji dengan sunyi. Perut tidak bisa menunggu sistem bekerja sempurna. Ia menuntut ikhtiar, meski harus dibayar dengan lelah dan rasa malu yang ditelan dalam-dalam.
Di fase inilah kebersamaan senasib sepenanggungan terasa begitu nyata. Semua orang berada dalam posisi rentan. Tidak ada yang benar-benar lebih aman. Setiap orang berjuang untuk dirinya dan keluarganya, sambil berharap ada uluran tangan yang datang. Namun justru di titik inilah, muncul ujian yang lebih berat daripada banjir itu sendiri: ujian moral.
Jika memberi kepada seseorang atau kelompok dianggap sebagai kebaikan, maka akal sehat segera mengingatkan kita bahwa bantuan yang begitu banyak tidak mungkin lahir dari satu orang atau satu kelompok saja. Di balik setiap karung beras, obat-obatan, selimut, dan tenda darurat, ada rantai panjang perbuatan baik yang sering tidak terlihat. Ada yang mengumpulkan, mencatat, mengangkut, menjaga, mendistribusikan, bahkan membersihkan sisa-sisa yang tercecer. Tidak semuanya tampil di depan, tidak semuanya disebut namanya, tetapi tanpa mereka kebaikan itu tidak pernah sampai.
Begitu pula jika bekerja membantu orang lain dianggap sebagai perbuatan baik. Negara sebesar ini tidak mungkin dijalankan oleh satu figur, satu kelompok, atau satu profesi tertentu. Ia bergerak karena jutaan orang melakukan tugasnya masing-masing—sering kali dalam senyap. Petugas kebersihan yang membersihkan lumpur sejak subuh, sopir logistik yang mengantar bantuan tanpa sorotan kamera, tenaga kesehatan yang bekerja dengan tubuh lelah, aparat yang menjaga ketertiban, relawan yang menunda urusan pribadinya—semua itu adalah kebaikan nyata yang jarang diklaim.
Kebaikan juga tidak selalu berbentuk memberi barang. Menahan diri untuk tidak menimbun, tidak menaikkan harga di saat orang lain terdesak, tidak memotong antrean bantuan, tidak menyebar kabar yang menambah kepanikan—semua itu adalah kebaikan moral yang sering kali lebih berat daripada memberi. Sebab ia menuntut pengendalian diri, bukan sekadar pengorbanan materi.
Ada pula kebaikan dalam bentuk kejujuran administrasi, ketertiban distribusi, kesabaran melayani, dan ketepatan mengambil keputusan. Dalam situasi pasca bencana, satu data yang benar bisa menyelamatkan banyak keluarga, dan satu keputusan yang adil bisa mencegah kecemburuan sosial yang berkepanjangan. Kebaikan semacam ini tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya luas dan bertahan lama.
Di sinilah muncul kekeliruan yang sering terjadi: merasa bahwa kebaikan hanya milik diri dan kelompok tertentu. Padahal kenyataan menunjukkan sebaliknya. Banyak bantuan yang sampai kepada korban bukan berasal dari kelompoknya sendiri, melainkan dari orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal. Mereka tidak bertanya tentang identitas, afiliasi, atau kepentingan. Mereka bergerak karena nurani.
Ketika seseorang atau kelompok merasa paling baik, paling berjasa, dan paling berhak atas pengakuan, di situlah kesombongan mulai bekerja. Kesombongan semacam ini bukan sekadar cacat pribadi, tetapi kecelakaan besar dalam kehidupan sosial. Ia mematikan empati, mempersempit pandangan, dan merusak kepercayaan antar manusia.
Karena itu, singkatnya, setiap orang harus dipandang bernilai baik—secara moral dan sosial—selama ia tidak menutup pintu kebaikan dalam dirinya. Nilai manusia tidak diukur dari simbol, klaim, atau seberapa keras ia menyebut dirinya peduli. Nilai itu justru tampak dari kesediaannya menjadi bagian kecil dari kerja besar, tanpa merasa paling berjasa.
Kebaikan hakiki selalu bersifat kolaboratif. Ia tumbuh dari saling percaya, saling menghargai, dan saling menguatkan. Ia tidak berisik, tidak arogan, dan tidak menuntut panggung. Ia bekerja dalam diam, tetapi menopang kehidupan bersama.
Pasca banjir, kita seharusnya belajar satu pelajaran penting: bahwa dunia ini tidak berjalan karena segelintir orang yang merasa paling baik, melainkan karena banyak orang memilih untuk tetap berbuat baik—meski tidak dikenal, tidak dipuji, dan tidak disebut sebagai siapa-siapa. Di situlah kebaikan menemukan maknanya yang paling hakiki.
SEMOGA KITA MENEMUKAN KEBAIKAN KOLEKTIF