KBBAceh.News | Tapaktuan – Diawal sambutan Bapak Sekjen menyatakan bahwa Indonesia bukan sekadar sebuah negeri dengan ribuan pulau dan beragam suku. Ia adalah rumah besar yang menyatukan hati dalam satu kesadaran: agama adalah perekat kehidupan. Di banyak negara, agama sering dipinggirkan, bahkan dianggap sumber perpecahan. Namun di Indonesia, agama dipelihara sebagai ruh bangsa, sebagai jembatan yang menyambungkan manusia yang berbeda keyakinan, berbeda budaya, bahkan berbeda pandangan hidup.
Kehadiran KUA di tengah masyarakat adalah salah satu bukti bahwa agama bukan hanya urusan pribadi dengan Tuhan, melainkan juga urusan sosial yang menata harmoni bersama. Di sana tercatat pernikahan, di sana pula dibina kerukunan. KUA ibarat pintu kecil yang menjaga rumah besar bernama Indonesia agar tetap kokoh berdiri dengan fondasi agama.
Namun, sejarah mengajarkan kita bahwa kerukunan tidak pernah selesai sekali untuk selamanya. Ia adalah api kecil yang harus terus dijaga agar tidak padam. Seperti yang pernah diingatkan Ratu Prawiranegara, isu kerukunan adalah isu abadi. Ia hadir di setiap generasi, menguji seberapa dalam kita menghayati makna keberagamaan.
Dalam Islam, maqasid asy-syariah dikenal sebagai tujuan luhur syariat: menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta. Namun perjalanan zaman menyadarkan kita bahwa ada satu lagi yang tidak boleh dilupakan: menjaga lingkungan. Di sinilah ekoteologi menemukan maknanya—bahwa beribadah kepada Tuhan tidak sempurna tanpa merawat bumi yang diciptakan-Nya.
Kerukunan sejati berarti hidup damai dengan sesama manusia, taat kepada aturan pemerintah, sekaligus ramah kepada alam. Pohon yang ditebang tanpa menanam kembali adalah luka pada tubuh bumi. Sungai yang tercemar adalah jeritan alam yang terlupakan. Padahal, setiap helai daun dan setiap tetes air adalah ayat Tuhan yang hidup. Menjaga mereka berarti menjaga hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Maka, keberagamaan Indonesia seharusnya terus melangkah ke arah itu: keberagamaan yang bukan hanya berputar di rumah ibadah, melainkan juga menyapa alam semesta. Karena bagaimana mungkin kita mengaku rukun, jika hubungan dengan lingkungan kita abaikan? Bagaimana mungkin kita mengaku beriman, jika bumi yang menjadi amanah justru kita sakiti?
Indonesia akan tetap dikenal sebagai bangsa religius. Tetapi marilah kita berdoa dan berupaya agar Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang menghadirkan wajah baru agama: wajah yang menyejukkan, merangkul, dan menyelamatkan semesta. Agama bukan hanya perekat di antara manusia, melainkan juga jembatan yang menyatukan langit, bumi, dan hati manusia.
(By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)