Antrian yang Menghabiskan Umur

Antrian yang Menghabiskan Umur
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
KBBAceh.News | Banada Aceh – Di banyak sudut Aceh, pasca banjir dan longsor di daerah yang tidak terjadi bencana, kita menyaksikan pemandangan yang sama berulang-ulang: orang-orang berdiri mengular sejak pagi, menunggu tabung gas 3 kg. Wajah-wajah lelah, tangan memegang tabung kosong, dan mata yang sesekali melirik jam—bukan karena dikejar waktu santai, tetapi karena waktu itu sendiri adalah nafkah.
Ironisnya, waktu yang habis di antrian itu seharusnya bisa dipakai untuk bekerja. Bisa untuk jualan di pasar, mengaduk semen di bangunan, menarik ojek, melaut, atau sekadar membuka lapak kecil di depan rumah. Tapi hari itu, mereka bekerja sebagai penunggu—menunggu kebijakan yang belum tentu datang tepat waktu.
Kalau keadaan ini kita jadikan sebuah drama, jelas ada naskahnya. Ada alur, ada tokoh, ada konflik. Yang menyedihkan, pemeran utamanya selalu orang yang sama: masyarakat kecil. Mereka tidak pernah naik panggung sebagai pemenang, hanya figuran yang terus disuruh sabar. Sementara sutradara—entah di mana—tampak tenang menonton dari kursi empuk, sambil berkata, “Ini dinamika.”
Lucunya, yang paling rajin mengantri sering kali justru orang yang paling tidak punya waktu untuk mengantri. Orang miskin itu bukan kekurangan tenaga, tapi kekurangan kesempatan. Ketika kesempatan itu diganti dengan antrian, maka kemiskinan bukan lagi sekadar kondisi—ia menjadi sistem yang dipelihara tanpa sadar.
Lebih lucu lagi (kalau boleh tertawa getir), gas ini disebut “subsidi.” Tapi subsidi macam apa yang menuntut pengorbanan waktu, tenaga, dan harga diri? Seolah-olah bantuan itu harus ditebus dengan kesabaran ekstra dan urat malu yang ditebalkan.
Anak muda sering disebut sebagai pembebas keadaan. Tapi dalam drama ini, mereka juga ikut mengantri. Kadang sambil main ponsel, kadang sambil menggerutu, kadang sambil pasrah. Bukan karena mereka tak mau melawan keadaan, tetapi karena panggungnya tidak menyediakan ruang untuk improvisasi. Semua sudah diatur rapi: siapa datang duluan, siapa dapat, siapa pulang dengan tabung kosong dan doa panjang.
Tulisan ini bukan sekadar keluhan, apalagi cercaan. Ini cermin kecil—barangkali buram—yang layak ditatap oleh pemegang kekuasaan. Bahwa kebijakan yang baik bukan hanya soal angka dan laporan, tetapi juga soal waktu hidup orang miskin. Waktu mereka terlalu berharga untuk dihabiskan dalam antrian yang tak berkesudahan.
Kalau drama ini ingin tetap dipentaskan, setidaknya ubahlah akhirnya. Jangan biarkan penontonnya terus menangis, sementara pemainnya tak pernah diberi kesempatan untuk menang. Sebab terlalu kejam jika sebuah negara tega menyaksikan warganya miskin—hanya karena sibuk mengantri untuk bisa tetap hidup. (Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar