KBBAceh.News | Tapaktuan – Ada orang yang bekerja dengan tangannya, ada pula yang bekerja dengan lisannya.
Tangan yang jujur menanam keringat, sementara lisan yang licik menebar pujian palsu. Di ruang kerja kita, kadang yang menang bukanlah yang berkeringat, melainkan yang pandai menyusun kata manis untuk memikat.
Menjilat, begitu orang menyebutnya. Bagi sebagian, ia adalah jalan pintas menuju jabatan. Tidak perlu repot membangun kompetensi, tidak perlu sabar menunggu hasil kerja— cukup dengan membungkus kelemahan dengan pujian berlebihan.
Namun jalan pintas selalu menyisakan harga yang mahal. Ia mengikis harga diri, menelantarkan kejujuran, dan perlahan menjerat jiwa dalam lingkaran kepalsuan. Yang tampak seperti kemenangan, sejatinya hanyalah kekalahan dalam diam.
Allah telah mengingatkan: “Dan janganlah kamu campuradukkan yang benar dengan yang batil, dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42)
Namun, yang lebih mengherankan adalah ketika seorang pemimpin merasa nyaman dijilat. Mengapa ada hati yang lebih senang disanjung ketimbang dikritik? Mungkin karena rapuhnya jiwa yang haus pengakuan, atau karena takut menghadapi kebenaran yang pahit. Padahal, Rasulullah SAW bersabda:
“Sejelek-jelek hamba adalah penjilat, yang datang hanya dengan pujian dan menjauh ketika tidak diberi.”(HR. Baihaqi)
Ketika jabatan dibangun di atas pujian semu,
organisasi pun kehilangan ruhnya. Keikhlasan menguap, keadilan pudar, dan kerja keras tak lagi dihargai. Yang tumbuh bukanlah semangat, melainkan iri, kecewa, dan luka.
Namun, selalu ada pilihan yang lebih menenangkan: tetaplah bekerja dengan tulus, meski tanpa sorak pujian. Tetaplah menjaga integritas, meski langkah terasa lambat. Karena ridha Allah selalu lebih tinggi dari ridha manusia. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mencari ridha Allah meski manusia murka, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan murka Allah, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya.” (HR. Ibn Hibban)
Menjilat mungkin membuat seseorang tampak bersinar sesaat, tetapi sinar itu hanyalah bayangan di balik pujian. Ia cepat padam.
Sedangkan ketulusan dan kerja jujur, meski sederhana, akan tumbuh menjadi pohon rindang: berbuah keadilan, memberi teduh, dan meninggalkan warisan nilai yang abadi.
(By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)