BERTAHAN DI TENGAH GELAP DAN GENANGAN

BERTAHAN DI TENGAH GELAP DAN GENANGAN
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
By Dr. Khairuddin, S. Ag. MA
Setelah banjir bandang itu surut dan longsor berhenti menggerus bukit, kampung kecil itu tak lagi sama. Lumpur masih melekat di dinding rumah, sisa kayu dan batu berserakan di jalanan. Suara riuh yang dulu hidup kini berganti sunyi yang panjang. Di salah satu rumah yang retak di bagian sudutnya, Fauzan berdiri termenung, memandang sisa-sisa kehidupan yang baru saja direnggut alam.
Di dalam rumah, Fadhilah duduk memeluk anak perempuannya, Raudhah, sementara Ihsan—anak laki-laki mereka—tertidur kelelahan di tikar tipis. Mereka selamat. Itulah satu-satunya hal yang terus diulang Fadhilah dalam hatinya, meski air mata tak berhenti menetes.
Namun setelah selamat, kehidupan tidak serta-merta menjadi mudah. Hari-hari pasca banjir justru terasa lebih berat. Harga beras melonjak, minyak goreng sulit didapat, sayur-mayur mahal seperti barang mewah. Gaji Fauzan tetap sama, tidak ikut naik bersama harga pasar. Setiap lembar uang terasa semakin tipis nilainya.
“Bang… bagaimana kita mengaturnya?” tanya Fadhilah suatu sore, suaranya nyaris berbisik, takut menambah beban di dada suaminya.
Fauzan tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai rumah yang masih lembap, lalu menarik napas panjang. “Kita mulai dari yang paling pokok,” katanya pelan, lebih untuk menguatkan diri sendiri.
Malam hari datang membawa ujian baru. Listrik padam total. Tidak ada cahaya, tidak ada kipas, tidak ada suara televisi yang biasanya menemani anak-anak tidur. Lampu emergency yang tersisa menjadi satu-satunya penerang, redup dan gemetar seperti harapan mereka.
Raudhah meringkuk ketakutan. Ihsan terbangun dan bertanya polos, “Ayah, gelapnya sampai kapan?”
Fauzan menahan perih di dadanya. “Sampai Allah izinkan terang kembali,” jawabnya sambil mengelus kepala anaknya.
Belum cukup sampai di situ, air PDAM pun berhenti mengalir. Untuk minum, memasak, dan mandi, mereka harus membeli air jerigen. Setiap jerigen berarti pengeluaran baru. Setiap tetes air menjadi sesuatu yang sangat berharga.
“Untuk mandi setengah gayung saja, Nak,” kata Fadhilah kepada Raudhah, menahan rasa perih karena tak bisa memberi kenyamanan seperti dulu.
Namun di tengah kesulitan itu, mereka memilih bertahan dengan cara yang paling manusiawi: bersama-sama.
Setiap malam, dalam gelap, Fauzan dan Fadhilah duduk berdampingan, membuat daftar kecil di kertas bekas. Beras, telur, minyak. Lainnya ditunda. Tidak ada keluhan, tidak ada saling menyalahkan. Yang ada hanyalah tekad untuk tetap berdiri meski tertatih.
Mereka memasak seadanya. Kadang hanya sayur bening dan telur ceplok. Tapi makanan itu dimakan bersama, dengan doa yang lebih panjang dari biasanya. Anak-anak belajar bahwa kenyang bukan soal banyaknya lauk, tetapi tentang kebersamaan.
Di saat mereka hampir kehabisan tenaga, ukhuwah seorang muslim lainnya datang menyapa.
Seorang tetangga mengetuk pintu membawa sebungkus beras. Seorang jamaah masjid mengantarkan air galon tanpa banyak bicara.
Seorang relawan membagikan lampu emergency sambil tersenyum dan berkata, “Ini titipan saudara-saudara kita.”
Tidak ada yang bertanya siapa yang paling menderita. Tidak ada yang menghitung siapa yang paling layak. Yang ada hanya satu rasa: kita adalah saudara.
Air mata Fadhilah jatuh lagi, kali ini bukan karena sedih semata, tetapi karena merasa tidak sendirian. Fauzan menunduk, bersyukur dalam diam. Ia tahu, banjir mungkin telah merenggut harta, tetapi ukhuwah telah mengembalikan harapan.
Suatu malam yang masih gelap, Fauzan berkata kepada keluarganya, “Musibah ini mungkin memadamkan lampu kita, memutus air, dan menguras uang kita… tapi selama kita saling menjaga dan Allah masih mempertemukan kita dengan orang-orang baik, hati kita tidak akan padam.”
Raudhah tersenyum kecil. Ihsan mendekatkan diri ke ayahnya. Fadhilah menggenggam tangan suaminya erat.
Gelap masih ada. Genangan masih tersisa. Harga-harga belum turun.
Tetapi di rumah kecil itu, harapan mulai tumbuh kembali.
Karena mereka belajar satu hal penting:
musibah bisa menghancurkan bangunan, tetapi tidak akan pernah mampu menghancurkan keluarga yang saling menguatkan dan umat yang saling menolong.
Dan dari genangan lumpur itulah, mereka bangkit—perlahan, sederhana, namun penuh keyakinan.
Cerita ini ditulis dari kisah sebuah keluarga sederhana yang berkunjung ke Banda Aceh untuk menjenguk anaknya yang sedang kuliah. Rumah mereka tidak roboh, dinding masih berdiri, atap masih menaungi. Namun banjir bandang dan longsor meninggalkan lumpur yang menutupi hampir seluruh isi rumah, merusak perabot dan menyisakan kelelahan yang tak selalu tampak oleh mata.
Dalam keterbatasan itu, mereka memilih bertahan tanpa banyak keluhan—membersihkan rumah perlahan, menata hidup dari sisa yang ada, sambil tetap memikirkan biaya kuliah anak yang harus berjalan. Bukan karena mereka tanpa rasa sakit, tetapi karena hidup tidak menunggu kesiapan siapa pun.
Kisah ini disampaikan dengan tenang di sebuah masjid seusai shalat berjamaah. Jamaah terdiam, tersentuh, karena cerita ini bukan sekadar tentang banjir, melainkan tentang keteguhan hati, kesabaran keluarga, dan indahnya ukhuwah.
Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua: musibah bisa datang pada siapa saja, dan di balik senyum yang terlihat, sering ada perjuangan yang belum sepenuhnya kering. (Red)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar