By. Dr. Khairuddin MA
Tapaktuan, KBBAceh.news – Hati itu seperti taman kecil di dalam diri kita.
Taman yang sepi, tersembunyi dari pandangan manusia, tetapi Allah selalu melihatnya.
Ada kalanya taman itu dipenuhi bunga-bunga keimanan yang mekar, namun ada kalanya pula ia ditumbuhi rumput liar yang membuatnya layu.
Menjaga hati tetap bercahaya bukan pekerjaan sekali dua kali. Ia butuh kesungguhan, seperti seorang tukang kebun yang setiap hari menyiram, menyiangi, dan memelihara tanamannya dengan penuh cinta.
Air bagi taman hati itu adalah dzikir dan doa.
Tanpa dzikir, hati akan kering, tandus, dan kehilangan daya hidupnya.
Ketika kita mengucapkan “Subhanallah,” “Alhamdulillah,” atau “Astaghfirullah,” seakan kita sedang menyirami jiwa kita dengan embun segar dari langit. Bahkan satu ucapan pendek yang tulus bisa menjadi hujan rahmat yang membasahi hati yang hampir retak.
Tapi kadang, hati kita juga dipenuhi oleh racun rasa iri, dengki, marah, dan dendam.
Semua itu seperti rumput liar yang merusak keindahan taman hati.
Jika tidak segera dicabut, ia akan menjalar, menutupi seluruh permukaan tanah, bahkan membunuh bunga-bunga kebaikan yang kita tanam.
Maka, setiap kali kita merasa iri terhadap rezeki orang lain, atau membenci keberhasilan saudara kita, saat itu juga kita harus bergegas membersihkan hati.
Ingatlah, rezeki orang lain tidak akan pernah mengurangi bagian kita.
Dan di tengah kesibukan hidup, kita sering lupa bahwa taman hati ini butuh cahaya.
Cahaya itu adalah Al-Qur’an.
Setiap ayat yang kita baca bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi menyinari jalan kita yang mungkin mulai gelap.
Bacalah Al-Qur’an bukan hanya dengan mata, tapi dengan hati yang haus petunjuk.
Bayangkanlah setiap ayat seolah-olah Allah sedang berbicara langsung kepadamu, menuntun tanganmu kembali ke jalan-Nya.
Namun, menjaga hati sendirian itu berat.
Kita butuh teman yang baik itu seperti angin sejuk di musim panas yang kehadirannya menyejukkan hati.
Teman yang mengingatkan kita pada Allah, menguatkan langkah saat kita mulai goyah, dan membimbing kita kembali saat kita tersesat. Bersamalah dengan orang-orang yang membuatmu rindu berbuat baik, bukan yang menambah beban dosa di pundakmu.
Dan satu hal lagi yang tak boleh dilupakan: taubat. Taubat itu bukan hanya untuk orang yang bergelimang dosa besar. Taubat adalah jalan pulang yang selalu terbuka bagi siapa saja yang merasa hatinya mulai buram.
Seperti cermin yang setiap hari terkena debu, hati kita butuh dibersihkan setiap saat.
Jangan menunggu tua, jangan menunggu sempurna, jangan menunggu waktu yang tepat.
Karena mungkin, waktu terbaik untuk kembali kepada Allah adalah saat ini, saat kita masih diberi nafas untuk memperbaiki semuanya.
Saudaraku,
hidup ini bukan soal siapa yang paling cepat, paling kaya, atau paling terkenal.
Hidup ini soal siapa yang hatinya tetap bercahaya sampai akhir perjalanan.
Ketika dunia kelam,
ketika amal-amal kita diuji,
dan ketika semua yang kita banggakan di dunia sirna,
yang akan menuntun kita hanyalah cahaya kecil di dalam hati itu.
Maka, rawatlah hatimu seperti kau merawat taman kecil yang sangat berharga.
Sirami ia dengan dzikir.
Bersihkan ia dari iri.
Cahayai ia dengan Al-Qur’an.
Lindungi ia dengan persahabatan yang baik.
Lap setiap debu dosanya dengan taubat.
Karena di hari nanti, ketika semua lampu dunia padam,
kita hanya akan berjalan mengandalkan satu cahaya: cahaya dari hati kita sendiri. (Red)