By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
Dalam realitas sosial keagamaan umat Islam hari ini, seringkali kita menemukan fenomena kontradiktif: semangat membela bentuk-bentuk ibadah begitu menggebu, namun tidak diiringi dengan kemuliaan akhlak yang menjadi inti ajaran Islam itu sendiri. Ironisnya, sikap ini tidak jarang justru melahirkan arogansi, saling menyalahkan, bahkan merendahkan sesama Muslim yang berbeda pendapat.
Fenomena ini menunjukkan kegagalan dalam memahami keterkaitan antara ibadah dan akhlak. Padahal, logika dasar dalam Islam sangat jelas: ibadah sejati harus melahirkan akhlak yang baik. Shalat, misalnya, secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai penangkal dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-‘Ankabut: 45). Artinya, jika seseorang rajin beribadah namun masih mudah memaki, memaksa, dan merasa paling benar, patut dipertanyakan efektivitas ibadahnya dalam membentuk karakter.
Kesalahan berpikir utama dalam kasus ini adalah fallacy of absolutism, yaitu menganggap pendapatnya sendiri sebagai satu-satunya kebenaran mutlak. Padahal, dalam ranah ibadah yang bersifat furu’iyyah (cabang), perbedaan adalah hal yang biasa dan telah dikenal sejak zaman para ulama salaf. Imam Syafi’i sendiri pernah berkata, “Pendapatku benar tapi bisa jadi salah, dan pendapat orang lain salah tapi bisa jadi benar.” Pernyataan ini adalah bentuk kerendahan hati ilmiah yang kini sering ditinggalkan oleh sebagian umat.
Lebih berbahaya lagi ketika sikap arogan ini dibalut dengan kalimat-kalimat yang “mengatasnamakan Tuhan”, seperti: “Ini perintah Allah, kamu wajib ikut,” atau “Yang tidak seperti ini berarti menyelisihi Islam.” Di sinilah muncul kekeliruan logika argumentum ad divinitatem – menggunakan Tuhan sebagai alat pembenaran pendapat pribadi. Padahal, tidak semua pendapat agama yang dibela mati-matian itu benar-benar berasal dari wahyu; banyak di antaranya adalah hasil interpretasi manusia.
Islam bukan hanya tentang ritual, tetapi juga etika. Nabi Muhammad SAW diutus bukan hanya untuk mengajarkan tata cara ibadah, melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ketika ibadah tidak lagi melahirkan kasih sayang, toleransi, dan kerendahan hati, maka yang tersisa hanyalah simbol kosong yang justru bisa menjadi alat penindasan spiritual terhadap sesama.
Maka, penting bagi setiap Muslim untuk kembali menimbang: apakah semangat beragama kita sudah mencerminkan nilai-nilai yang diperjuangkan Nabi? Apakah pembelaan kita terhadap suatu bentuk ibadah telah mencederai orang lain secara moral? Jangan sampai, kita membela bentuk ibadah tapi menciderai esensinya: menjadi manusia yang berakhlak mulia. (Red)