By. Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA
Dalam hidup ini, kita bisa berjalan jauh—meraih gelar, jabatan, kekayaan. Tapi semua itu takkan berarti jika kita kehilangan satu hal paling mendasar: rumah yang tenang, keluarga yang menguatkan, dan cinta yang menumbuhkan jiwa.
Keluarga bukan sekadar kumpulan orang yang tinggal di bawah satu atap. Keluarga adalah amanah ilahi, tempat di mana cinta, tanggung jawab, dan ibadah saling berpelukan dalam keheningan.
Rumah yang hanya diisi harta, akan kering. Tapi rumah yang diisi zikir, shalat berjamaah, dan percakapan hati… akan menjadi taman surga kecil, Rasulullah SAW bersabda:
“Rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an, maka akan lapang bagi penghuninya, dan para malaikat hadir di dalamnya.” (HR. al-Baihaqi)
Maka jangan biarkan rumahmu hanya dipenuhi wifi dan TV. Hadirkan langit di dalam rumah: suara Al-Qur’an, doa lembut seorang ibu, dan tanya jawab hangat antara ayah dan anak.
Ayah dan Ibu: Dua Sayap Menuju Keluarga Sakinah
Ayah adalah mata arah. Ibu adalah mata hati. Jika keduanya bekerja sama dalam cahaya iman, anak-anak akan tumbuh bukan hanya dengan kecerdasan otak, tapi juga kecerdasan ruhani dan batin.
Keluarga bukan tempat bebas dari masalah. Tapi keluarga yang spiritual tahu caranya menyikapi masalah: bukan dengan teriakan, tapi dengan sujud. Bukan dengan saling menyalahkan, tapi dengan saling menasihati.
Anak anak tidak mengingat besar rumah kita, tapi seberapa besar cinta yang mereka rasakan di dalamnya.
Mereka tidak mengingat banyaknya mainan, tapi seberapa sering kita menatap mata mereka dan mendengarkan cerita mereka dengan sabar.
Banyak anak yang tumbuh di rumah yang lengkap, tapi jiwanya kosong. Maka tanamkan nilai: kejujuran, syukur, tanggung jawab, cinta kepada Allah, bukan hanya hafalan dan prestasi dunia.
Tahukah kita? Menyuapi istri: sedekah. Memandikan anak: ibadah. Membersihkan rumah dengan niat ikhlas: amal shalih. Tersenyum pada pasangan: sunnah Rasul.
Rasulullah SAW bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)
Kebahagiaan keluarga bukan dari banyaknya uang, tapi dari banyaknya cinta yang disiram dengan iman.
Jika rumah kita dihiasi ibadah, hati yang saling mencintai karena Allah, dan kesabaran dalam mengasuh serta menuntun anak, maka itu adalah jalan ke surga yang paling mulia.
“Ya Allah, jadikanlah rumah kami rumah yang diberkahi. Jadikan suami sebagai imam yang adil, istri sebagai penyejuk, dan anak-anak sebagai pelanjut cahaya dalam dunia yang semakin gelap ini.” (Red)