Kerja Keras, Belanja Bijak

Kerja Keras, Belanja Bijak
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin MA

Tapaktuan, KBBAceh.news – Setiap hari, kita menyaksikan orang-orang yang berjuang tanpa lelah — memeras keringat dari pagi hingga sore, bahkan hingga larut malam. Mereka mengerahkan seluruh tenaga, tekad, dan kemampuan untuk mencari nafkah yang halal. Ini adalah bagian dari ikhtiar mulia yang diajarkan dalam agama: mencari rezeki dengan cara yang benar.

Namun, perjuangan itu tidak cukup berhenti di sana. Sehebat apa pun usaha kita, hasilnya bisa kehilangan nilai berkah jika salah dalam membelanjakannya. Ada banyak orang yang berhasil mengumpulkan harta, tetapi ketika membelanjakannya, mereka terjebak dalam kemewahan berlebihan, pemborosan, atau bahkan dalam perbuatan yang diharamkan. Akibatnya, rezeki yang tadinya halal bisa berubah menjadi sumber dosa, bukan lagi ladang pahala.

Ibarat sumur yang penuh tapi bocor:

Seseorang dengan susah payah menggali sumur untuk mendapatkan air bersih. Ia bekerja keras berhari-hari, menggali tanah, membersihkan bebatuan, hingga akhirnya air memancar. Namun jika ia tidak memperhatikan dinding sumur yang retak, air itu akan terbuang percuma, meresap ke tanah dan tak pernah bisa dimanfaatkan.

Begitu pula dengan rezeki. Kerja keras mendatangkan keberlimpahan, tapi kelalaian dalam membelanjakan membuat semuanya hilang tanpa bekas.

Atau seperti membangun rumah megah di atas pondasi rapuh:

Seseorang menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya besar untuk mendirikan rumah impiannya. Tapi karena pondasinya rapuh dan retak, dalam waktu singkat rumah itu ambruk. Semua kerja kerasnya menjadi sia-sia.

Demikian pula harta: mencari dengan halal adalah pondasi pertama, namun membelanjakannya dengan cara yang baik adalah penguat yang membuat bangunan kehidupan tetap kokoh.

Mencari nafkah adalah amanah. Membelanjakannya dengan bijak juga adalah tanggung jawab. Nafkah yang halal perlu disalurkan kepada hal-hal yang baik: memenuhi kebutuhan keluarga, membantu sesama, mendukung kebaikan, dan berinvestasi untuk akhirat. Sebaliknya, membelanjakan rezeki tanpa pertimbangan syariat bisa menghancurkan keberkahan dan menjerumuskan kita dalam penyesalan.

Karena itu, jangan hanya bangga dengan kerja kerasmu. Banggalah juga dengan cara membelanjakan hasil jerih payahmu. Belajarlah untuk bertanya pada hati setiap kali hendak mengeluarkan uang:

Apakah ini akan mendekatkan aku pada ridha Allah, atau justru menjauhkan?

Ingatlah, bekerja keras adalah satu sayap, membelanjakan dengan bijak adalah sayap yang lain. Barulah dengan kedua sayap itu, kita bisa terbang menuju keberkahan hidup dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar