Kesadaran Hidup: Merawat Titipan Allah di Bawah Pengawasan-Nya

Kesadaran Hidup: Merawat Titipan Allah di Bawah Pengawasan-Nya
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

Oleh Khairuddin, S.Ag,.MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Segala fasilitas di dunia ini, sesungguhnya hanyalah hak pakai, bukan hak milik. Rumah yang megah, kendaraan mewah, bahkan raga dan nyawa yang kita gunakan setiap hari bukanlah milik kita seutuhnya. Semua itu hanyalah titipan dari Allah, yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Kesadaran ini menuntun kita untuk melihat dunia dengan kacamata yang berbeda—kacamata seorang hamba yang hanya diamanahkan sementara, bukan seorang pemilik yang berkuasa penuh.

Ketika kita menyadari bahwa segalanya adalah titipan, hati kita akan terasa ringan. Tidak lagi ada kesombongan yang menyelinap ketika mendapat keberlimpahan, dan tidak pula ada keluhan berlebih ketika kehilangan. Kita akan merasa bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat di mana kita diuji dengan apa yang dititipkan kepada kita. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu ingat bahwa kita ini seperti musafir yang berteduh di bawah pohon, hanya singgah sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Cobalah kita Mulai dengan menghadirkan kesadaran diri setiap hari. Lihatlah tangan, kaki, dan rasakan bagaimana semuanya bergerak dengan izin Allah. Sadari bahwa setiap tarikan nafas adalah pinjaman yang diberikan secara cuma-cuma. Bayangkan Tuhan sedang memperhatikan kita—bukan dengan pandangan yang menghakimi, tetapi dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat merasa Tuhan “menitipkan pandangan-Nya” kepada kita, hati akan lebih lembut, dan kita akan lebih berhati-hati dalam menggunakan apa yang ada.

Latihlah diri untuk sering berbicara dengan Tuhan melalui doa dan zikir. Katakan dalam hati, “Ya Allah, aku sadar bahwa ini semua hanyalah titipan. Bimbing aku untuk menjaga titipan ini dengan baik, agar aku tidak menjadi hamba yang khianat.” Ketika kita hidup dengan rasa dititipi, kita tidak lagi merasa memiliki, melainkan merawat dan memanfaatkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Pada akhirnya, hidup menjadi lebih bermakna, karena kita berjalan di bawah naungan rasa syukur dan tanggung jawab kepada Sang Pencipta. (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar