Kesadaran yang Terkelupas di Tengah Jalan

Kesadaran yang Terkelupas di Tengah Jalan
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Pagi itu, seperti biasa saya melewati jalan utama sambil menikmati udara segar. Mata saya menangkap pemandangan yang mungkin biasa bagi sebagian orang, namun terasa janggal dan menggelisahkan bagi saya yang hidup di Aceh—negeri yang telah memilih untuk menegakkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang laki-laki, di antara banyak laki-laki lainnya, tampil berbeda. Ia mengenakan celana pendek di atas lutut, kaos dalam putih tanpa lengan, rompi olahraga, topi, dan sepatu kets. Langkahnya ringan, wajahnya santai, seolah tidak ada yang salah. Tidak ada rasa canggung, tidak ada isyarat malu. Seolah tubuhnya bukan bagian dari masyarakat yang hidup dalam aturan, atau paling tidak dalam norma kolektif.

Mungkin, dalam sudut pandang fungsional, semua itu ada manfaatnya: rompi agar cepat berkeringat saat jogging, sepatu untuk kenyamanan kaki, topi untuk menghindari sinar matahari. Namun yang menjadi soal adalah celana pendek—yang oleh banyak ulama Aceh dikategorikan sebagai pakaian yang membuka aurat laki-laki, karena tidak menutup bagian tubuh dari pusar sampai lutut.

Dimana Kesadaran Itu?

Ini bukan soal baju, ini soal kesadaran. Kesadaran bahwa hidup tidak hanya milik kita sendiri. Bahwa dalam hidup bermasyarakat, ada ruang yang harus kita jaga bersama. Kita tidak bisa merasa bebas seratus persen jika kebebasan itu menabrak pagar-pagar etika dan agama yang kita sepakati.

Celana pendek itu bukan sekadar kain yang menyingkat lutut, ia adalah simbol dari kealpaan: lupa bahwa tubuh kita bisa memantik syahwat orang lain, lupa bahwa Aceh punya aturan moral, lupa bahwa publik punya hak untuk tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak patut.

Analogi: Hidup Itu seperti Rumah Kaca

Bayangkan kita tinggal di rumah kaca—semua orang bisa melihat ke dalam. Maka, apa yang kita kenakan, cara kita berjalan, bahkan cara kita menata meja makan, bisa menjadi sorotan. Jika kita berdalih, “Ini kan rumah saya, suka-suka saya,” maka kita sedang mengingkari sifat rumah itu sendiri: terbuat dari kaca.

Begitulah hidup dalam masyarakat. Kita adalah bagian dari rumah kaca sosial. Setiap gerak kita dilihat, setiap gaya kita dipantau. Apalagi di Aceh, di mana agama tidak hanya soal pribadi, tetapi juga soal publik.

Memang Kebebasan berpakaian adalah hak individu. Namun, kepatutan berpakaian adalah tanggung jawab sosial. Dalam Islam, aurat adalah bagian dari marwah (kehormatan). Maka ketika aurat dibuka di depan umum, itu bukan hanya pelanggaran personal, tetapi juga gangguan terhadap kehormatan kolektif. Apalagi Syariat Islam di Aceh mengatur batasan aurat laki-laki—yakni dari pusar hingga lutut. Kajian ulama juga menegaskan bahwa membuka aurat di tempat umum bisa menimbulkan syahwat dan kerusakan moral lingkungan. Ini bukan soal siapa yang tergoda, tapi soal bagaimana syariat menjaga kemungkinan terjadinya keburukan (sadd az-zari’ah).

Maka dari itu, larangan itu bukan sekadar hukum, tapi cermin cinta. Hukum itu ada agar masyarakat tidak terjerumus. Maka, melanggar dengan alasan kenyamanan pribadi, sama saja dengan menolak kasih sayang yang dibingkai dalam aturan.

Kadang, seseorang tidak merasa salah karena sudah terlalu lama hidup dalam kebiasaan yang dibiarkan. Tapi ingatlah, tidak semua yang sering dilakukan menjadi benar, dan tidak semua yang nyaman itu menenangkan. Bisa jadi, kenyamanan itu adalah tipuan dari hati yang belum sadar.

Kesadaran diri itu seperti lampu jalan. Ia tidak hanya menerangi dirinya, tapi juga orang lain. Maka, biarlah kita menjadi pribadi yang menyalakan lampu, bukan memadamkannya. Mulailah dari hal yang sederhana—seperti menutup aurat dengan benar. Itu bukan soal kain, tapi soal taat.

Aceh bukan hanya tanah. Ia adalah identitas. Dan syariat bukan hanya simbol, tapi pelita. Maka, mari kita jaga bersama dengan kesadaran, bukan sekadar aturan. Karena kalau kesadaran itu hilang, aturan pun akan menjadi pajangan.

“Jangan sampai tubuh kita nyaman, tapi jiwa kita berantakan.”

“Menutup aurat bukan hanya menjaga tubuh, tapi juga menjaga harga diri umat.” (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar