KBBAceh.News | Banda Aceh – Kita sering mengira bahwa kita sedang membela kebenaran. Bahwa amarah kita murni datang dari ketidakadilan yang harus dilawan. Namun sering kali, bukan logika yang memimpin kita—melainkan kebencian yang diam-diam bersarang di dalam hati.
Kebencian itu licik.
Ia menyamar sebagai semangat kebaikan.
Ia menyamar sebagai keadilan.
Ia membungkus dirinya dengan kata “demi kebenaran”, Padahal, tidak ada yang lebih buta daripada kebencian.
Perhatikan bagaimana logika kita mulai bengkok saat rasa benci sudah mengambil alih, Kita tidak lagi peduli apakah seseorang benar atau salah, Yang penting: dia harus kalah.
Maka kita menyerang pribadi, bukan pikiran.
Kita menghina bukan untuk memperbaiki, tapi untuk menghancurkan “Pendapatmu tak berharga! Kamu siapa?”
Beginilah ad hominem lahir: logika yang rapuh, didorong oleh dendam. Kebencian membuat kita lupa bahwa kebenaran tidak bergantung pada siapa yang berbicara.
Kebencian juga membuat kita melakukan generaliasi gegabah.
Satu kesalahan kecil dianggap sebagai sifat seluruh dirinya.
Seseorang terlambat membayar utang
→ dicap tidak bertanggung jawab seumur hidup.
Seseorang berbeda pandangan politik
→ kita tandai sebagai penghianat bangsa.
Kita tidak lagi menilai manusia secara utuh.
Kita hanya melihat noda, lalu menyimpulkan ia kotor seluruhnya.
Kebencian itu seperti kaca pembesar:
ia membesar-besarkan cacat orang lain sambil mengecilkan aib kita sendiri.
Yang paling berbahaya: kebencian mencari teman, Ia tidak suka berjalan sendirian. Ia ingin menjadi gerakan—kerumunan—massa.
Dan di situlah teori bandwagon tumbuh, pada saat inilah “Kita semua membencinya. Maka dia pasti salah!”
Padahal, kebanyakan orang membenci sesuatu bukan karena yakin itu salah,
melainkan karena takut berbeda dari kerumunan.
Kita lupa:
sejarah penuh dengan orang-orang baik yang dibenci ramai-ramai.
Kebencian juga gemar mengalihkan isu, Ia takut ketahuan lemah logikanya, Maka ia melompat ke pembahasan lain yang tak relevan.
Teori Red herring pun muncul—isu palsu yang menutup inti persoalan pada saat ini yang kita cari bukan lagi solusi, Yang kita cari hanyalah kemenangan ego.
Pada akhirnya, kebencian adalah logika sesat yang berwujud emosi.
Ia tidak ingin penyelesaian, hanya kehancuran.
Ia bukan ingin membela kebenaran, tapi menguburnya.
Karena itu, penting kita bertanya pada diri sendiri, Benarkah saya membenci karena ada yang salah? atau Saya menganggap itu salah hanya karena saya sudah terlanjur membenci?
Membebaskan pikiran dari logika sesat berarti membebaskan hati dari kebencian.
Sebab hati yang penuh benci takkan pernah mampu menuntun akal menuju kebaikan.
Jika hati kita bening, pikiran pun akan jernih.
Dan masyarakat yang jernih hati dan pikirannya tidak mudah diaduk oleh isu, tidak mudah dipecah oleh fitnah, dan tidak mudah terluka oleh dusta.
Kita layak hidup dengan hati yang damai.
Bukan hati yang terus terbakar oleh api yang kita nyalakan sendiri.
Akhirnya ingatlah sudara bahwa “Matikanlah kebencian sebelum ia membakar seluruh kemanusiaan kita”. (By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA)