KETIKA KRITIK DIANGGAP ANCAMAN (Renungan tentang Kedewasaan Jiwa dalam Memimpin)

KETIKA KRITIK DIANGGAP ANCAMAN (Renungan tentang Kedewasaan Jiwa dalam Memimpin)
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:
KBBAceh.News | Banda Aceh – Ada cermin yang tidak terbuat dari kaca—cermin itu bernama kritik. Ia tidak menggantikan wajah kita, tetapi memantulkan diri kita yang sesungguhnya. Sisi-sisi yang mungkin tidak ingin kita lihat, namun justru bagian yang paling perlu kita perbaiki.
Pemimpin yang matang mengerti hal ini. Ia tahu bahwa kritik bukanlah luka, tetapi obat. Bukan hinaan, tetapi peringatan lembut dari Allah agar langkahnya tetap berada di jalan yang benar. Ia tidak merasa lebih kecil ketika dikritik, justru ia merasa diberi kesempatan untuk menjadi lebih besar.
Tetapi tidak semua pemimpin berjiwa seperti itu. Ada pemimpin yang ketika kritik datang, ia merasa langit runtuh menimpanya. Ia menutup mata, menolak melihat cermin yang disodorkan kepadanya. Bahkan, ada yang memilih memecahkan cermin itu—melukai tangan orang yang memegangnya.
Bawahan yang profesional tiba-tiba dianggap ancaman. Ketelitian dipandang sebagai pembangkangan. Dan keterampilan yang seharusnya membawa kemajuan justru dicurigai sebagai upaya perlawanan.
Di titik inilah kekuasaan kehilangan maknanya.
Ia tidak lagi menjadi pelindung organisasi, tetapi berubah menjadi pagar yang melindungi ego.
Padahal, amanah tidak diberikan untuk membesarkan diri, melainkan untuk membesarkan kebermanfaatan.
Jika kita melihat lebih dalam, kritik adalah salah satu cara Allah membimbing seorang pemimpin. Bukan semua orang berani menegur, dan tidak semua hati diberi keberanian untuk menyampaikan kebenaran. Maka ketika kritik hadir, itu bukan bukti kelemahan seorang pemimpin—melainkan bukti perhatian Allah terhadapnya.
Kritik adalah tanda bahwa masih ada orang yang peduli pada kebenaran.
Ia adalah cahaya kecil yang menuntun langkah agar tidak tersesat oleh ambisi dan pujian.
Pemimpin yang sejati akan merasakan getaran ini. Ia akan mendengar bukan dengan telinga, tetapi dengan hati. Ia tidak akan marah, tidak merasa dijatuhkan, justru ia bersyukur karena Allah mengirimkan seseorang untuk mengingatkannya.
Seringkali kita mengira bahwa kekuatan terletak pada suara yang keras, sikap yang tegas, atau keputusan yang tak bisa dibantah. Namun dalam pandangan kemanusiaan—dan lebih dalam lagi, dalam pandangan ketakwaan—kekuatan sejati adalah kemampuan untuk menundukkan ego sendiri.
Pemimpin yang kuat bukanlah yang tidak pernah dikritik.
Pemimpin yang kuat adalah yang tidak runtuh ketika dikritik.
Ia berdiri tegak bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia mau belajar memperbaiki ketidaksempurnaannya. Ia menghargai kritik bukan sebagai serangan, tetapi sebagai cermin yang menolongnya tetap waras di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.
Bagi kita yang berada di bawah kepemimpinan seperti itu, janganlah patah semangat. Menyampaikan kebenaran mungkin terasa seperti berjalan di atas duri, tetapi langkah itu akan dicatat sebagai amal jika niatnya tulus.
Biarlah cermin di tangan kita tetap jernih.
Biarlah kata-kata yang keluar tetap lembut dan benar.
Karena di akhir perjalanan, kita tidak ditanya apakah kritik kita diterima atau ditolak—kita hanya ditanya apakah kita sudah berani mengatakan kebenaran ketika saatnya tiba.
Dan sesungguhnya, Allah melihat keberanian itu. Allah mencatatnya. Dan Allah pula yang kelak membalasnya. (By Dr. Khairuddin S.Ag,. MA)
Bagikan:

Tinggalkan Komentar