Ketika Lidah Diam, Maka Gelap pun Menari

Ketika Lidah Diam, Maka Gelap pun Menari
  Akurat Mengabarkan
Penulis
|
Editor
Bagikan:

By Dr. Khairuddin, S.Ag,. MA

KBBAceh.News | Tapaktuan – Bayangkan sebuah rumah yang perlahan dimakan rayap. Awalnya hanya beberapa titik kecil di kusen pintu. Tapi karena tidak ada yang peduli, lama-lama rayap itu merambat ke seluruh tiang. Hingga suatu hari, rumah itu ambruk. Bukan karena badai, tapi karena diamnya semua orang terhadap bahaya kecil yang dibiarkan.

Begitulah keadaan suatu kampung yang kehilangan keberanian menegur keburukan.

Di kampung itu, hampir semua orang tahu siapa yang sering mencuri. Bahkan, bukti kadang sudah jelas, ada yang sampai memasang CCTV, wajah pelakunya terekam. Tapi tak ada satu pun yang berani menegur. Seolah semua lidah kelu, semua hati bisu.

Ibu si pencuri sendiri bahkan harus menyembunyikan ayamnya ke rumah tetangga saat bepergian. Bukan karena tidak percaya pada orang lain, tapi pada anak sendiri. Ironi yang menyayat hati. Ini bukan lagi tentang kehilangan barang, tapi kehilangan nurani.

Sebenar Apa yang terjadi?

jika dahulu, masyarakat kita punya budaya saling mengingatkan dengan halus tapi tegas. Sekarang, banyak yang takut dianggap sok suci atau ikut campur. Akhirnya, kejahatan dianggap biasa. Ketika kejahatan dibiarkan, maka ia akan tumbuh. Tapi ketika kebaikan didiamkan, ia akan mati pelan-pelan, mungkin inilah yang dinamakan melemahnya kesadaran kolektif.

Masyarakat menjadi apatis karena takut. Takut dibalas, takut difitnah, bahkan takut diasingkan dari pergaulan. Rasa takut ini seperti rantai yang mengikat keberanian. Padahal, jika satu orang saja bersuara, yang lain mungkin ikut menyuarakan. Tapi karena semua menunduk, maka yang salah pun merasa bebas.

Dalam sebuah komunitas, harus ada yang berani menjadi penyala obor. Entah tokoh agama, tokoh adat, pemuda, atau siapa pun yang dihormati. Tapi jika semua tokoh diam atau malah ikut menikmati kenyamanan dari ketakutan kolektif, maka masyarakat akan kehilangan arah. Kampung itu ibarat kapal yang oleng tanpa nahkoda.

Kampung yang kita cintai ini belum mati. Ia hanya tertidur dalam apatis yang panjang. Tapi masih bisa dibangunkan, jika ada satu hati saja yang mau memulai, menyuarakan kebenaran walau pelan. Ingat, perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Seperti api yang besar, dimulai dari satu percikan kecil.

Duhai saudaraku…

jangan diam lagi. Karena jika kita semua diam, siapa yang akan bicara? (Red)

Bagikan:

Tinggalkan Komentar